Selasa, 02 Maret 2010

HARAMNYA PRESIDEN WANITA BUKANLAH KHILAFIYAH LAGI !

HARAMNYA PRESIDEN WANITA
BUKANLAH KHILAFIYAH LAGI !
Pernyataan adanya khilafiyah tentang keharaman wanita menjadi presiden masih dipolemikkan oleh sebagian kalangan umat Islam. Adanya perbedaan pandangan tentang boleh tidaknya wanita menjadi presiden ini, menjadi suatu hal yang layak diakui dalam sistem demokrasi yang memberikan jaminan hak kebebasan berpendapat. Berbagai argumentasi dihadirkan untuk melegalisasi kebolehan wanita menjadi presiden. Baik argumentasi yang menggunakan pendekatan sosial (perspektif gender), pendekatan historis (tataran empiris ), pendekatan maslahat, pendekatan ilmiah maupun pendekatan syara’. Hal ini bisa dicermati dari beberapa pendapat yang berkembang sebagai tanggapan terhadap hasil Konggres Umat Islam Indonesia yang merekomendasikan bahwa presiden dan wakil presiden harus pria atau terlarang bagi wanita menduduki kedua jabatan pemerintahan tertinggi.
Berbagai Pendekatan Argumentasi yang Membolehkan Wanita Menjadi Presiden
Pendapat-pendapat yang berkembang seputar kebolehan wanita menjadi presiden , telah dimunculkan dengan berbagai pendekatan argumentasi. Diantaranya adalah :
1. Pendekatan sosial (perspektif gender)
Menurut cara pandang atau perspektif gender, adanya pengharaman wanita menjadi presiden adalah pandangan bias gender yang cenderung menempatkan posisi wanita di bawah pria. Hal ini merupakan penindasan atas hak wanita yang pada dasarnya memiliki hak yang sama dengan pria termasuk dalam bidang politik. Berangkat dari pandangan demikian, maka wajar apabila kemudian muncul pertanyaan bahwa penyumbatan hak perempuan menjadi pemimpin, jelas-jelas berlatar belakang politik (Republika, 27 November 1998).
2. Pendekatan Historis (tataran empiris)
Bahwa perdebatan soal kepemimpinan perempuan seakan tidak melihat fakta sejarah yang memberi kebebasan perempuan di masa lalu duduk menjadi pemimpin. Misalnya dalam sejarah Aceh yang pada jamannya pernah dipimpin oleh wanita. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Quraish Shihab (Staf pengajar IAIN Syarif Hidayatullah) yang menegaskan bahwa kaum perempuan sebenarnya memiliki hak politik yang sama dengan kaum pria. Terlalu banyak bukti yang menyebutkan perempuan terlibat dalam kepemimpinan di jaman Rasulullah saw. Misalnya istri Rasulullah, Aisyah pernah memimpin perang. Oleh karenanya sangat keliru kalau kita hanya berdasar pada satu dua hadist soal kepemimpinan wanita. Oleh karena itu selama perempuan mampu mempersatukan bangsa dan memimpin bangsa dan negara dengan baik maka tak ada larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin negara. Ungkapan senada diutarakan oleh pengasuh pondok pesantren Daruttafsir Arjowinangun Cirebon, KH A. Husein Muhammad. Pakar fiqih ini mengemukakan bahwa pandangan semua ahli fiqih , peran politik dalam arti amar ma’ruf nahi munkar memberi kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan. Namun dalam berpolitik praktis kesempatan itu tdiak sama. Oleh karenanya perlu melihat realita sosial. Dimana sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin negara dan pemerintahan (Republika , 27 November 1998).
3. Pendekatan Maslahat
Bahwa semua pertimbangan yang memberi kesempatan kaum perempuan memimpin bangsa ini harus didasarkan pada kemaslahatan umat. Dra Keusnendar, mantan anggota DPR dari PPP menyatakan bahwa perlu ada persyaratan yang sesuai dengan kondisi bangsa dan negara agar kepemimpinan umat ini membawa manfaat bagi umat. Dalam konteks ini ia sepakat bila saat ini lebih baik kaum lelaki yang menjadi pemimpin. Dengan kata lain tidak menutup kemungkinan suatu saat wanita bisa menjadi seorang pemimpin. (Republika, 27 November 1998).
4. Pendekatan Ilmiah
Bahwa untuk memimpin sebuah negara dibutuhkan orang yang memiliki kemampuan (Kapabilitas untuk memimpin negara secara adil dan bijaksana serta mampu memajukan bangsa dan mengangkat bangsa dari keterpurukan akibat krisis ekonomi, tanpa memandang pria atau wanita. Oleh karena itu tidak perlu ada phobia terhadap munculnya wanita yang menduduki peran jabatan pemerintahan.
5. Pendekatan Syara’
Bahwa untuk memahami ayat, harus dipahami secara kontekstual progresif. Hadist yang melarang wanita menjadi penguasa, menurut Quroish Shihab bahwa sejak jaman Nabi saw telah dikenal ada pemahaman tekstual dan kontekstual. Yang memahami hadist di atas secara kontekstual mengkaitkan dengan konteksnya yakni diucapkan Nabi saw ketika putri Kaisar menggantikan ayahnya sebagai penguasa tertinggi. Dengan demikian ia hanya berlaku untuk kasus tersebut bukan untuk yang lain.
Pendapat-pendapat senada dengan berbagai pendekatan di atas, nampaknya akan terus berkembang. Apalagi di tengah situasi politik Indonesia yang belum menentu. Namun di pihak lain ada sebagian kalangan yang menolak kehadiran pemimpin wanita dengan tinjauan syara’. Masihkah masalah ini manjadi masalah khilafiyah ? Atau Islam telah memastikan tentang keharaman pemimpin wanita ? Darimanakah seharusnya menilai haram tidaknya wanita menjadi presiden ?
Mengapa Muncul Khilafiyah ?
Dimunculkannya opini adanya khilafiyah tentang presiden wanita, nampaknya berangkat dari dua kepentingan. Yakni kepentingan politik dan kepentingan ideologis. Dalam hal ini kepentingan politik yang dimaksudkan adalah kepentingan pihak ketiga (negara Kapitalis) yang masih berambisi untuk memainkan perannya di negara berkembang seperti Indonesia. Sebenarnya bagi negara Kapitalis (Amerika Serikat), bukan merupakan hal yang prinsip tentang siapa yang akan memimpin Indonesia. Namun yang menjadi prinsip adalah pemimpin Indonesia haruslah orang yang dapat dengan mudah berada di bawah kendalinya. Sehingga Amerika Serikat dapat dengan mudah mengglobalkan ide sekulernya. Saat ini, nampaknya AS melihat peluang besar pada diri Mbak Mega, oleh karena itu usaha pendekatan AS terhadap Mbak Mega , telah dilakukan jauh-jauh sebelum PEMILU, yakni sejak terpilih sebagai Ketua Umum PDI dalam Munas 1993, Megawati Sukarnoputri terus kedatangan tamu-tamu penting dari AS. Diantaranya, tokoh informal pendeta Jesse Jackson, sejumlah mantan Dubes AS Stepleton Roy yang paling sering kelihatan di berbagai acara Megawati (Realitas). Apakah ini dapat diartikan bahwa Megawati memiliki hubungan khusus dengan negara Globocop itu ? Roy mengelak : "Saya tidak hanya mengadakan pertemuan dengan Megawati, tetapi juga ketemu Amin Rais, Emil Salim dan tokoh-tokoh lainnya. Saya juga selalu kontak dengan pejabat-pejabat pemerintah" ujarnya kepada Realitas. Pernyataan Dubes AS itu tak menutupi hubungan khususnya dengan Megawati. Bahkan sekaligus membuktikan hubungan khususnya dengan tokoh-tokoh lain. Maka dengan upaya keras, akhirnya PDI-P dapat menduduki kursi tertinggi pada perolehan suara PEMILU 7 Juni 1999.
Opini kebolehan kepemimpinan wanita pun semakin gencar yakni diantaranya dengan menjadikan isu gender sebagai alatnya. Tak ayal lagi, kondisi masyarakat Indonesia ternyata mendukung tumbuh suburnya isu gender. Dan isu inilah satu-satunya argumen yang mampu memperkuat posisi Mbak Mega untuk tetap dapat duduk di kursi kepresidenan. Meskipun saat ini mesti was-was karena adanya kalangan yang mempertanyakan kapabilitasnya.
Anehnya tak sedikit tokoh-tokoh Islam/ulama-ulama yang secara sadar/tidak sadar mengemukakan dalil-dalil yang justru melegalisasi kebolehan presiden wanita. Dengan satu kunci bahwa dalil-dalil syara’ harus difahami secara kontekstual progresif (yakni dengan memperhatikan sosio kultural masyarakat). Cara pandang demikian, (apabila dicermati) merupakan cara pandang yang berdampak pada upaya perubahan hukum-hukum syara’ yang sudah pasti. Tanpa menyadari bahwa keberadaan hukum-hukum Islam adalah hukum-hukum yang sudah pasti yang tidak akan berubah oleh waktu dan jaman. Apabila cara pandang kontekstual progresif yang mengacu pada tujuan maslahat ini dibiarkan berkembang maka akan berdampak pada hukum-hukum syara’ lain. Sebagaimana yang dilakukan terhadap hukum tentang kepemimpinan wanita. Oleh karena itu tiada pilihan lain lagi bagi kita untuk mengembalikan hukum-hukum persoalan berdasarkan nash-nash syara’.
Syarat Mutlak Pria Kepala Negara
Sebagai seorang muslim maka sudah selayaknya untuk senantiasa menjadikan cara pandang Islam sebagai cara pandang dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan, termasuk dalam masalah politik kepemimpinan wanita. Cara pandang Islam mengharuskan menempatkan hukum-hukum syara’ sebagai acuan utama dalam memandang masalah. Oleh karena itu untuk melihat layak tidaknya berbagai argumentasi yang dikemukakan untuk menolak pengharaman presiden wanita haruslah dikembalikan kepada nash-nash syara’. Syaikh Taqiyuddin An Nabhany dan Abdul Qodim Zalllum dalam kitab Nizhamul Hukm fil Islam, menulis bahwa ada tujuh syarat in-iqad (syarat mutlak) yang harus dipenuhi oleh seorang calon Khalifah sebagai kepala negara kaum muslimin, yaitu : muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka dan mampu. Ketujuh syarat itu ditetapkan sebagai syarat mutlak calon khalifah lantaran memiliki dalil-dalil yang menunjukkan kepastian hukum dari nash-nash syara’.
Mengenai syarat laki-laki, Imam Al Qalqasyandi dalam kitab Maatsirul Inafah ila Ma’aamil Khilafah juz I/31 mengatakan bahwa syarat sahnya aqad khilafah menurut fuqoha Madzab Syaafi’iy, yang pertama adalah lelaki. Tidak terjadi aqad manakala diberikan kepada seorang wanita. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Shahabat Abu Bakrah ra yang mengatakn bahwa tatkala mendengar kabar mengenai penyerahan kekuasaan negara Persia kepada seorang Putri Kisra yang bernama Buran sebagai ratu setelah ayahnya meninggal, maka Rasulullah saw bersabda :
"’Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan/kekuasaan) mereka kepada seorang wanita".
Kata "Wallau amrahum" dalam hadist ini berarti mengangkat orang sebagai waliyul amri atau memegang tampuk pemerintahan.
Sekalipun teks hadist tersebut berupa kalimat berita atau khabar, pemberitaan tersebut datang dalam bentuk tuntutan (thalab). Pemberitaan tersebut di dalamnya disertai celaan terhadap orang-orang yang menyerahkan urusan kekuasaan kepada wanita yakni peniadaan keberuntungan mereka, maka hal ini menjadi ‘qorinah’ (indikasi) bahwa tuntutan itu bersifat tegas dan pasti. Dengan demikian hukumnya adalah haram bagi seorang wanita memangku jabatan pemerintahan.
Adapun selain urusan pemerintahan, maka hukumnya boleh bagi wanita untuk menduduki posisi-posisi itu misalnya menjadi pegawai negeri, kepala bagian, direktur sebuah biro administrasi, keuangan dan lain-lain. Kenapa demikian ? Sebab pembicaraan dalam hadist itu adalah mengenai putri Kisra yang menjadi Ratu Persia. Dengan demikian jabatan-jabatan yang bukan penguasa pemerintahan tidak termasuk dalam perkara yang dimaksud dalam larangan penyerahan jabatan kepada seorang wanita. Oleh karena itu dalam sistem Islam jabatan kepala negara dan kepala wilayah atau daerah seperti khalifah, Mu’awin, Tafwidl, wali dan amil tidak diperbolehkan dipegang oleh wanita.
Adapun jabatan Qodli (hakim), kecuali Qodli Madzalim yang mengadili para pejabat diperbolehkan dijabat oleh seorang wanita. Sebab Qodli (hakim) dalam sistem pemerintahan Islam tidak termasuk jabatan kekuasan. Qodli adalah jabatan mengadili perkara perselisihan diantara anggota masyarakat atau pelanggaran ketertiban umum atau hak-hak jama’ah dimana fungsi qodli sebagai pemutus perkara adalah penyampai keputusan Allah pada tiap-tiap perkara. Dengan demikian jabatan memberitahukan hukum Allah SWT itu bisa dijabat oleh siapa saja baik laki-laki maupun perempuan yang memahami hukum Allah. Khalifah Umar bin Khatab pernah mengangkat Assyfa binti Abdullah bin Abdi Syam (seorang wanita dari Quroish yang wafat pada tahun 20 H) menjadi qodli hisbah yakni yang memutuskan perkara-perkara pelanggaran hak umum di sebuah pasar yang bertugas untuk menjatuhkan vonis hukum kepada semua orang yang melakukan pelanggaran terhadap hukum syara’.
Jelas sekali kekuatan hukum Islam yang melarang wanita menjadi kepala negara. Terlebih lagi Al Qurلn menyebut penguasa dengan kata ulil amri firman Allah dalam QS. An Nisaa’ ayat 59 :
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (Alqurلn) dan Rasul-Nya (As-sunah)".
Lafadz ulil amri adalah lafadz untuk laki-laki. Kalau untuk perempuan digunakan lafadz uulatul amri.
Kalau ada yang mengatakan bahwa khalifah sebagai jabatan kepala negara dalam Islam kan tidak sama dengan jabatan presiden dalam sistem republik, sehingga tidak tepat kalau syarat khalifah diterapkan kepada jabatan presiden, maka teks hadist di atas sudah menjawab dengan sendirinya. Yakni, kalau Buran, putri Kisra, yang dinobatkan sebagai ratu (kepala negara dalam sistem monarki) kaum Majusi di Persia dicela (sebagai indikasi keharaman) oleh Rasulullah saw., apa bedanya dengan presiden ? Sungguh orang yang berfikir akan mudah memahaminya.
Keharaman Presiden Wanita, Bukan Khilafiyah
Sungguh aneh pandangan Wakil Rois Syuriah PBNU KH Sahal Mahfuzh yang mengatakan bahwa sejak awal ulama belum sepakat boleh tidaknya wanita menjadi pemimpin dan sampai sekarang masih tetap khilafiyah (Kompas, 9/11/98). Menurut Sahal waktu memberi ceramah dalam koggres tersebut, dia sudah menyinggung agar masalah itu tidak dimunculkan lantaran kita tidak bisa bersandar kepada masalah khilafiyah. Tapi benarkah khilafiyah? Ulama mana yang berikhtilaf dalam masalah ini?
KH. Sahal memang tidak menyebut siapapun yang berikhtilaf. Rekannya, Khatib ‘Am Syuriyah KH. Dr. Said Aqiel Siradj yang sering omong nyeleneh tipikal Gus Dur mencoba memberikan penjelasan yang kelihatan ilmiah. Dalam tulisannya baru-baru ini di harian Media Indonesia ia mengatakan bahwa Imam Ibnu Jarir At Thabari dan sebagian ulama Malikiyah (pengikut madzhab Imam Malik bin Anas) seperti dilansir oleh Al Asqalani (Al Asqalani, XIII, hal. 56) membolehkan wanita memegang jabatan kepala negara. Setahu kami kitab tersebut bukan menyebut kebolehan jabatan kepala negara bagi wanita, tetapi kebolehan jabatan qadli (hakim) bagi wanita yang jelas bukan jabatan penguasa.
Said Aqil, seperti ingin meyakinkan ikhtilaf itu dengan mengutip kisah wanita yang pernah berkuasa di Mesir, yakni ratu Syajaratuddur dari dinasti Mamalik. Sebelum kami jelaskan duduk perkaranya, kami ingin menegaskan bahwa menentukan hukum Islam itu harus berdasarkan dalil syara’ (yakni Al Qurلn, As Sunnah, Ijma’ Shahabat dan Qiyas), bukan berdasarkan sejarah. Kisah Syajaratuddur memang menarik, yakni seorang wanita yang dicintai seorang penguasa Mesir, Malikus Shalih, yang tunduk kepada Khilafah Abbasiyyah yang waktu itu dijabat oleh Khalifah Al Mustanshir Billah dan berpusat di Baghdad. Pada saat wafat, kekuasaan diserahkan kepada Syajaratuddur. Ketika mendengar peristiwa itu, khalifah segera mengirim surat untuk menanyakan apakah Mesir tidak ada laki-laki sehingga kekuasaan diserahkan kepada wanita ? Kalau memang tidak ada, Khalifah hendak mengirim laki-laki dari Baghdad untuk berkuasa di Mesir. Akhirnya Syajaratuddur mengundurkan diri dari kekuasaan di Mesir setelah berkuasa selama tiga bulan, dan lalu digantikan oleh Emir Izzudin yang kemudian menikahinya.
Kisah Syajaratuddur ini menepis sangkaan Amien Rais bahwa ada kekecualian (istitsna) tentang bolehnya perempuan menjadi pimpinan negara manakala para lelaki suatu negeri tak ada yang mampu memimpin. Sangkaan seperti itu sama artinya dengan membuat syariلt baru. Naْdzu billahi mindzalik!
Adapun Ratu Balqis (ratu negeri Saba) yang juga disebut Aqiel dalam tulisannya adalah fragmen sejarah dalam kekuasan Nabi Sulaiman yang menjadi raja atas Bani Israil. Jadi tidak ada implikasi hukum dalam kisah yang dimuat Al Qurلn itu. Lagi pula, dalam kisah itu, Ratu Balqis melepaskan kekuasaannya setelah ditundukkan oleh Sulaiman dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan akhirnya menjadi istri Nabi Sualiman.
Kini jelaslah, pihak-pihak yang melontarkan masalah haramnya wanita jadi kepala negara sebagai masalah khilafiyah tidak memiliki bukti sedikitpun. Mungkin hanya ilusi pihak-pihak yang mengeluarkan pernyataan itu.
Yang pasti Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya Al Jaami’li Ahkamil Qurلn Juz I hal 270 mengatakan : "Khalifah haruslah seorang laki-laki dan mereka (para fuqaha) telah bersepakat bahwa wanita tidak boleh menjadi imam (khalifah). Namun mereka berselisih tentang bolehnya wanita manjadi qadli berdasarkan diterimanya kesaksian wanita di dalam pengadilan". Lagi pula, para kyai yang orang-orang dekat Gus Dur pernah memberikan kata pengantar dalam buku Ensiklopedi Ijmak (karya Saلdi Abu Habib, hal. 315) yang memuat kesepakatan ulama bahwa jabatan khilafah (kepala negara/pemerintahan) tidak boleh dipegang oleh wanita, orang kafir, anak kecil yang belum baligh dan orang gila.
Dengan demikian jelaslah bahwa larangan wanita menjadi kepala negara /pemerintahan, baik itu khalifah, presiden, perdana menteri, raja, kaisar dan lain-lain apapun namanya bukanlah khilafiyah dalam hukum syariلt Islam.

Tips Mudah Mengamankan Virus

Tips Mudah Mengamankan Virus

Ni cuma berbagi aja,, langkah² nya dah saya praktekkan dan terbukti ampuh membuat komputer saya aman dan terhindar dari serangan virus.. sebagai gambaran di warnet saya,, untuk server saya make anti virus avast profesional 4.8. sedangkan untuk komputer client nya g' ada make anti virus.. yupp sedikit berani sich tapi sejauhni masih lumayan aman..

Perlu diketahui klau kita memakai anti virus yang sifatnya real time protector atau yang di installkan maka konsekwensinya komputer kita akan sedikit lambat, bila membuka file dokumen seperti word atau exel maka dia akan melakukan scan terlebih dahulu, disamping itu disaat start up juga githu akan dikit lambat, namun komputer kita akan menjadi sedikit lebih aman..

Nah klau g' make antivirus so pasti komputer kita loadingnya lebih cepat, tapi akan itu akan sangat riskan terkena virus, dan klau dah kena virus bisa jadi lelet.

Nah berikut ni langkah-langkah yang saya lakukan untuk mengamankan komputer dari serangan virus,,
1. Yup,, di awali dengan menginstall sistem operasi pc terlebih dahulu, dan setelah selesai saya langsung install antivirusnya terlebih dahulu.. setelah itu di scan dan baru install accesoris atau aplikasi lainnya.
2. Mematikan fungsi auto run pada semua drive.. Caranya : Klik Start - Trus klik Run lalu ketik gpedit.msc trus enter. Pada Computer Configuration pilih menu Administrative Templates trus double klik System abis tu cari Turn Off AutoPlay dan klik. Setelah pop up nya tampil ceklis pada bagian Enabled, Dan Pastikan Turn off Autoplay on All Drives. Lakukan Hal yang sama pada User Configuration. hal ini berfungsi untuk mencegah virus autorun masuk ke komputer anda trutama melalui flash disk.
3. Matikan program yang g' penting ketika starup. caranya Klik Start - Run ketik msconfig lalu pilih tab menu startup. Hilangkan ceklis program yang g' penting seperti winamp lain-lainya lah... yg g' penting. Guna nya buat mempercepat loading saat komputer pertama kali aktif.
4. Untuk membuka file di drive baik itu primary drive atau removable drive usahakan dari Klik kanan start - explore. Jangan melalui My Computer. soalnya klau melalui My Computer maka program auto run nya aktif.
5. Pa lagi ya!!! Nah bila komputer nya mo dipakai buat internetan saya saranin buat make antivirus seperti Avast, AVG 8 dua nich dah saya coba, firewall nya cukup bagus. Namun AVG 8 terkadang updatenya sering bermasalah dan bisa membuat blue screen. klau g' salah sich... Nah sebagian teman saya bilang AVIRA ama kaspersky juga bagus. Tapi saya blom pernah nyoba.
6. Klau komputer nya g' dipake buat internetan make antivirus lokal juga cukup sepertinya. PCMAV ama ANSAV bisa diandalkan.
7. Usahakan dalam membuat partisi di harddisk minimal dua buah. Partisi pertama buat File Sistem operasi dan Aplikasi yang tidak membutuhkan update. Trus dipartisi yang kedua buat aplikasi yang membutuhkan update dan menyimpan data² lainnya.
8. Terakhir untuk lebih amannya lagi install Deep Freeze. Proteck Partisi harddisk anda tempat file OS nya..
Yuppp itulah kira-kira langkah² nya untuk mengamankan komputer dari virus. yang ingat baru ini.. tar klau da tambahan saya masukin lagi dipostingan yang lain. Dan tunggu ya postingan selanjutnya "Tips Mempercepat kinerja komputer"

http://www.ansav.com/download/vuploader.php?a=upload
http://www.avast.com/eng/avast_4_professional.html
http://www.d60pc.com/2008/11/22/kaspersky-anti-virus-2009-800506-final-full-version/
http://gudanglagu.com/r/ridho-rhoma/ridho-rhoma-menunggu/
http://www.sfinet.blogspot.com/
http://tutorialgratis.net/2008/04/11/download-antivirus-gratis-update-terbaru/
http://www.softpedia.com/get/Antivirus/Avast-Home-Edition.shtml
http://download699.avast.com/iavs4pro/setupeng.exe
http://download.softpedia.com/dl/103a2911c8d54b79a4297ad397012f09/49c26e3c/100004411/software/internet/im/ymsgr900_2136_us.exe
http://id.messenger.yahoo.com/download/win/
http://mcdens.blogspot.com
valentin0_mel@yahoo.com

wanted, one father

Chapter One


Words to the scene he should be writing for his newest novel unfolded in Max Murdock’s mind as he negotiated the last block to his mother’s house. A part of him knew he was driving too fast for the neighborhood streets, but he was late picking up Annabelle, as he had been every night this week. His hand was inches from the knob when the front door opened and he stood face to face with his mother. Donna Fielding had the determined look in her eyes that said he was about to hear something he didn’t want to hear. Normally an easygoing woman, she was hard to ruffle, but when she did get her dander up, it was enough to make even a grown man quake. Some things never changed.
“I know I’m late again, Mom,” he began in a conciliatory tone as he stuffed a container of wipes into Annabelle’s diaper bag. “But the book was going really well, and when the muse is sitting on my shoulder, it’s hard to stop.”
“I don’t mind that you were late, Max” Donna Fielding said, “but…”
“And I know I’m an inconsiderate jerk,” he interrupted, not even hearing that he’d been absolved of the sin of tardiness, “I take advantage of you, and…”
“Yes, you do,” Donna said with a nod, taking her own turn at interruption.
Max blinked. He hadn’t expected her to agree with him.
“Sit down, son, ” she said in a gentle voice. “I need to talk to you.”
Panic flared. What was so important that he had to sit before she could tell him? She was getting older, and… “What’s wrong?” he asked, his worried gaze meetings hers.
For the second time in as many minutes, Max’s heart plummeted. There was no one he knew who could watch Annabelle while he worked. The idea of trying to combine child care and writing was something he couldn’t begin to comprehend.
To be honest, he had come to the conclusion that Cara was right. Their marriage was all wrong, had been from start. He realized now that he would never have been able to please her, no matter what he did. So here he was, one baby to care and provide for, and one book to deliver in two months.
Like Cara, Max had come to the conclusion that he wasn’t very good parent material. He’d asked himself a hundred times the past eight months why the two of them had even considered having a baby. All Annabelle’s birth had done was add another layer of tension to their lives. But unlike Cara, Max wasn’t one to walk out when things got bad. Mistake or not, Annabelle was his child, and he knew he was responsible for her life…in more ways than one. He would do his best by her, and that including finding a baby-sitter who would give her the kind of care he felt she deserved, care he was totally unequipped to give her himself.
She had made him nervous from the first, but Cara had been there to take care of most of Annabelle’s needs. When Cara left, Annabelle was still so tiny, so fragile. Max felt as if he were some clumsy giant trying to handle a piece of delicate porcelain. He’d tried to carry his weight as much as his work would allow when he and Cara were together, but with her gone, there was so much more to do. If it wasn’t time to feed her, she needed changing. And there was the crying. Lots of crying.


Chapter Two


Max started at the receiver in disbelief.
I bandage their hurts... a give them three square meal a day—most days.. I listen to their dreams…and hope i haven’t warped them too badly. They are my boys and I love them.
Max realized that he and Zoe Barlow were in the sort of the same situation, left with the children to raise, alone.
For some reason, he wanted to meet this person, a woman who was doing her best, even though she was afraid it wasn’t good enough. Zoe set the phone receiver aside and swiped at the stray tear that trickled down her cheek. Zoe was setting the pot on the stove when the phone rang. Uncertain she could take another grilling she hoped it was Celia.
She was surprised that he’d called back to do anything but listen as the rich, masculine voice attempted an explanation. Despite her frustration and discouragement, she found her self wondering but the man was half as good-looking as his voice made him sound.
Zoe heard him take a deep breath, as if he needed to brace himself for what he was about to say. Zoe left her hackles rising again. In the next breath, she realized and should at least her what he had to say without interrupting. He had taken the time and trouble to call back after she’d hung up on him. Taking offense when he was trying to explain wasn’t doing anything to defuse a situation that had the potential to get out of hand again.
Zoe though for a moment. Mrs Jeffries was supposed to came the following afternoon., but if she could see both parents in one day, it would save her having to spread out the meetings : “That would be fine. How does then in the morning sound?” “Ten is fine. We’ll look forward to it.”
Zoe heard the smile in his voice but decided to get to the bottom of things. “It doesn’t bother you that I’ve spanked my boys?”
Annabelle’s crying roused Max from a deep sleep. He rolled to his side, glanced at the clock and groaned. Six o’clock! Still he supposed he should be thankful that she’d slept through the night, something that happened more and more often the older she got. She was probably hungry, he thought, swinging his feet to the floor and pulling of pair of short on over his briefs. Covering a yawn, he headed down the hallway to the nursery.
She was standing up, clinging to the rail of the crib. Her brown eyes drenched with tears that spiked her long eyelashes. When she saw him come through the door, she held out her arms and cried harder.
“Annabelle!” Zoe and Max cried in unison. They headed for the front door simultaneously. Zoe pushed through the screen first and saw that Chris had Annabelle in his arms, trying his best to silence her. Seeing Max, he handed her over, relieved to be rid of the responsibility. Zoe and Max turned the Chris. The threatening tears had made good on their attempted escape and rolled down his cheeks. Zoe turned to Max to gauge his reaction. Max turned his attention to Annabelle, who had stopped crying and was investigating the pocket of his shirt. Strangely, the compliment made Zoe feel like crying. She dropped her gaze from his and swallowed.
Chapter Three


Zoe set the glass of lemonade and a platter of cookies on the table. “There will be a tad more interaction than that.” Seeing the question in Celia’s eyes, she said, He’s renting the cabin. I already got a deposit and a month’s rent.”
Max frowned. Was Zoe pretty? No. Not really. Pretty was too bland. Beautiful didn’t fit, either. She was more striking than pretty. She had a classic beauty, the king was often overlooked or mistaken for plainness because it held elements that went far beyond merely pretty. He couldn’t deny that she had made in indelible impression on him.
The lighthearted banter passed right over Max as he conjured up an image of Zoe in her modest sundress and the loose cascade of auburn hair twisted atop her head. He saw again the spattering of freckles bridge of her nose and her shoulders.
Neither does Zoe Barlow. His mind tried to tell his body something contrary to what he knew in his heart. But just because he felt an unexpected surge of desire didn’t mean she held any special interest for him. It was too soon after the divorce. He wasn’t ready for a relationship, not even a casual relationship and something told him that Zoe Barlow would never consent to something casual, even if he were interested. No, she wasn’t a one-night-stand type. She was the wedding-ring, do it-up-proper-kind of woman. The thought of remarrying held no appeal and he feared it might never again.
Donna reached out and took his hand. “If you love her and you keep trying, it will come, son. I promise.”
Max Murdock was different. His divorce and his pain were fresher. He hadn’t had time to work through the anger he must feel over his ex-wife’s leaving, let alone enough time to deal with the pain. He was divorced and will his ex might not be in his life, she and whatever had happened were still in his thoughts. Zoe suspected it would take more than a few months for him to rid himself of the pain of it. She sensed that he had about all on his plate he could handle and suspected that the last thing he wanted or needed was someone woman going gaga over him.
Why was she suddenly so interested in her looks? Was it because Max Murdock was the first man in eons to jolt her into an awareness of her femininity with his soft, slow, sexy but somewhat rusty smile? Or was it because she was finally emerging from the cocoon of grief she’d lived in so long and was preparing to get on with her life? A part of her felt sad at leaving David behind, but another part of her felt a glimmer of excitement.
Ah, David, I do miss you and what we had.
Frustrated by his inability to get the words on the page, he went a nearby liquor store to get some empty boxes to start packing. That shouldn’t take much mental power. He filled several boxes, loaded them into the Expedition’s back and the rear rests, and drove out to his new home.
As he drove, he felt a twinge of excitement. Though small, the cabin was the perfect place to create. He’d felt it from the moment he’d seen it sitting in the middle of the clearing. Though it wasn’t exactly isolated, it was away from the noise of town. He could he birds instead of sirens and smells the fecund scent of the earth instead of gasoline fumes.
Chapter Four


Max pulled into the drive, passed the rear of Zoe’s house and drove through the narrow lane that meandered through the trees to the cabin. As it had the day before, seeing the cabin nestled in the clearing gave him a feeling of having come home, which ridiculous since he had been born and raised in subdivisions. The living and dining areas were still empty, but a vase of fresh – cut garden flowers, most of which he couldn’t identify, sat on the mantle-a feminine touch to welcome him to new home. He opened the front door, giving the fresh air another avenue in and carried the box to his bedroom. He was on his fourth box when he heard Zoe calling his name.
He consoled himself with the notion that admiring an attractive woman’s attributes was just a male thing. Max forced his irritation aside. “Thanks. I appreciated your opening the windows, too. ”She wrinkled her nose. “It smelled musty, even though I was just in here leaning a week ago.”
Max unzipped the thermal bag, pulled out a soda and popped the top. “No, problem. My stepfather is going to help me move some of my big pieces this evening. we’ll come get them then.”
Now there was something to think about, Max thought, his gaze unaccountably roaming the length of her bare legs Max took a long swig from soda can and set on the counter. “I’ll bring in some more boxes.” He turned and went back out side, thinking about what had just happened. Zoe was kind of woman who worked her way into a man’s life and his mind until she got a good grip on his heart.
A sudden thought hit him. When all the boxes that could be emptied had been, Max thanked her for her help. The sound of the boys’ shoes pounding up the wood steps and across the porch announced their arrival. “Mom!” Chris called The other two boys did the same. “Are you in there?”
“Yes, I’m here,” Zoe called “Don’t come in. I’m heading home.”
“Aw, man! We wanted to see Max,” Mike said. Max wouldn’t have been human if he hadn’t admitted to feeling a bit pleased. “Come on in,” he said. “Hi, Max!” the trio said, almost in unison. Smiling at the genuine happiness in their eyes but a little uncomfortable with their unabashed hero worship, Max shoved the tips of his fingers into the front pockets of his jeans. Anxiety assailed Max.
It was almost six when Zoe heard the sound of an approaching vehicle. The sudden thought that she might be going overboard on this hospitality thing gave her pause. Zoe was always amazed at how much deeper her children’s thoughts were than what she expected them to be and hard it was to answer some of their questions.
Chris’s eyes held blatant disbelief. Like Chris, she had been asking herself these same question ever since Max left the day before. Chris thought about that a moment and nodded. Chris was too young to have to bear the burden of their limited finances.
“Don’t cry, Mom.” Determined not to cry, she scooped up another spatula of frosting. “It’s going to be okay, Mom,” Chris said. “Max is here now.” Zoe’s heart gave a painful lurch. Max was the only one who had come alone and wanted the place and she really did need the money.
Max got out of Paul’s truck as the front door burst open and all three of Zoe’s boys rushed through, wide smiles on their faces, calling his name. Max’s initial thought was that it was nice to be greeted at the door, something that had never happened in all the years he and Cara had been together. The thought brought an inexplicable ache to his heart.
While the boys ran to the kitchen, Max and Paul followed Zoe to spare bedroom that was being used for strong. For fleeting instant as their eyes met, Max imagined it was his flesh her hand was skimming over so lightly.

The arrival of her youngest son was a welcome relief. There had been a strange look in Max’s eyes a few seconds ago. Zoe smiled and gestured for them to have as eat at the table, where the boys were already attacking their cake. Before Zoe could say anything else, she heard the sound of Paul’s footsteps on the porch. The answer to his question was obvious. It was an oil painting of a man leaning against the porch railing of another house. Despite her embarrassment at their seeing the picture, she had to admit their comments roused and inkling of interest in her. “My interest was always in advertising.” She said.
Though she knew Max’s heart was in the right place, his choice of words hit her the wrong way .Max looked as if she’d struck him. She shook her head and gave a wry twist of her lips. Feeling un comfortable and not knowing exactly why, Zoe drew a deep breath and pasted a smile on her face. When Max finally pulled into his driveway that night, he was dead tired.
As he drove home, he thought about Zoe’s little spurt of indignation. And as he pulled into the driveway of hi old house, he thought of Paul’s comments when they’d parted at a gas station. Max had thanked his step father for helping him and Paul had assured him it was no problem.
The memory of Danny complaining about not having a grandma resurfaced. Danny might just have himself a grandma after all. He kissed his Mom on the cheek, sent her on her way, took a quick shower and fell into bed. He fell asleep almost instantly and dreamed of a passionate Zoe Barlow.

Chapter Five


As it turned out, Max’s mother wasn’t able to help him the next day because Annabelle was beyond cranky. Donna suspected the baby was cutting teeth and decided to keep her at home to watch her, just to make sure.
Max disengaged Annabelle from the car seat. She’d always liked being outdoors, even when she was a new born and since the weather had grown warmer, his mom spent a fair amount of time outside with Annabelle in her playpen or just carrying her around and letting her look at things. Max never seemed to have enough time to do the same.

You’ve never taken the time.

The tiny voice inside him made the subtle correction to his thoughts.
In comparison, Max was too wounded. Whatever he’d experienced as a cop was bound to be why he seldom smiled, part of the reason for the intensity that radiated from him. And then there was the fact that he and Annabelle had been abandoned, there was no other word for it by his wife.
To further sour the idea of Max as a potential man in her life was the irrefutable fact that he was uncomfortable with his own child, and she came with three, which would only make him crazy, even though he’d dealt with her son just fine in small doses.
The most important reason she shouldn’t get involved with Max was that she had decided that her attraction was purely sexual and therefore taboo. She’d never been promiscuous and didn’t intend to become so just because Max Murdock was such a delicious temptation.
Twenty minutes later, she neared the cabin. Max, who was carrying Annabelle, and a tall woman with short, dark brown hair were still walking around the yard, looking at this and that. Both Max and the woman turned. Zoe wasn’t even aware that she’d been holding her breath until she felt it whoosh from her body. First, Max was as attractive as she remembered maybe more so and second, the woman, though very attractive herself, was order and looked a lot like him.
She glanced again at Max and realized he was making a slow survey of her body. A flush started at her toes and moved slowly over her, seeming to settle in the very heart of her femininity. His gaze finally found hers. There was unmistakable look in his eyes, an awareness so intense it took Zoe’s breath away. So much for getting her attraction in perspective! She forced her gaze from the heat in his eyes and turned her attention to Annabelle.
Zoe’s glance met his over the baby’s head. Again there was that intangible something she couldn’t read in his eyes.
“There was never any overt disapproval. Paul is a very likable man, and Max and Ryan knew how hard it had been on me trying to provide for them, so they were fairly accepting when we told them. Paul made it very clear that he wasn’t there to take Lowell’s Place. He told them he wanted to make his own place in the family. It took a while, especially for Max, who was very close to his dad, but he and Paul have grown very close over the years.”
‘”That’s wonderful,” Zoe said sincerely. “My friend keeps telling me I’ll find someone else, but with three boys, it seems impossible to me that anyone would want to take on all of us.” Her eyes held earnest conviction as they met Donna’s. “I don’t want to make a mistake. I don’t want to add a divorce to the emotional load the kids and I already have.”
“Unfortunately, you and I both know there are no guarantees,” Donna said. “Life and love come with a certain amount of risk. If you’d like a bit of advice, I’d tell you not to rush into anything and use your instincts. They’re more often right than wrong.”
That was the problem. While she was very attracted to Max Murdock, all her instinct told her that even if he shared that attraction, he wasn’t the right man for her. But knowing that didn’t change the way her body reminded her of the length of her abstinence whenever he smile that rare, lethal smile.
Zoe told herself not to borrow trouble. It was too late to change the course she’d taken. She just have to hope he stayed a while and pray she could deal with his leaving in a way the boys would understand when it came time for separation.


Chapter Six


On Saturday morning, Max awakened slowly, to the sound of a bird singing outside his bedroom window. Max closed his eyes again, savoring the moment of quite. It had been a hectic week, and he knew the next one wouldn’t be much better as he and Annabelle settled into their new routine.
What was it about Zoe Barlow beside those long shapely legs that drew him? Something about her called out to him in ways he’d never experienced. It was more than a realization that she was extremely pretty and had a wholesomeness that was, in its own way, sexy. He decided on nothing, for the moment. Attraction to the opposite sex was normal, especially when a person had been through a lengthy period of abstinence. He could accept that. What he couldn’t accept was getting involved. Even if Zoe was the kind of woman he was usually drawn to which she wasn’t the timing was all wrong.
Max’s body responded in typical male fashion to the images that drifted through his mind like wisps of smoke.. Tantalizing. Elusive. Mysterious. Assaulting his senses and eroding his will with their very ambiguousness. Making his body war with his mind, his emotions with his intellect, insanity his logic. But when, he asked himself, had the heart ever listened to the mind? When had common sense ever won out over desire? In his experience, it was only after being in a relationship for a while that wisdom began to assert it self and the mind started weighing the pros and cons. The prudent things to do would be to keep their relationship impersonal and not let his emotions become involved. It was a good plan, if he could stick to it.
That evening, when the boys had been put to bed, Zoe sat on the front porch listening to the tree frogs and whip-poor-wills and thinking about the day. Which Celia had demanded to hear about as soon as Zoe walked through the front door. There had been a nostalgic sweetness to it that brought a lump to her throat. Three years ago, she and David had been taking Chris to ball games whenever he wasn’t on duty. Having Max go along had brought back those memories. They’d felt like a family today, and even though she knew ut was a false feeling, she’d seen the happiness in her children’s eyes. For the first time, they could relate to their friends whose fathers attended every game. For the first time in a long time, they could look over and feel that they were part of something complete, whole.
Though he did it reluctantly, he also admitted it was a pleasant experience to be regarded as part of Zoe’s family. Cara had never liked the things he did, so the events they attended together didn’t go any farther than the occasional office party. Her office party. He’d hardly felt like a couple, much less a family. Today had been different. As terrified as he’d felt when the coach mistook him for Chris’s dad, he couldn’t deny a feeling of completeness as he’d sat along the fence with the kids and Zoe, knowing the other people in attendance assumed he and Zoe were the parents of her boys and Annabelle. Knowing they thought Zoe was his wife. And despite his dogged determination not get any more involved, strangely proud of it.




Chapter Seven


Over the next three weeks, Max’s life feel into a routine that was easy and pleasant, one he took no time at all adjusting to. He woke in the morning, got Annabelle up and ready and took her to Zoe’s about eight. He stopped for lunch called to check on his daughter and went back to work until five or so.
Max’s heart ached with sympathy. He hadn’t given much thought to the many specific things fathers were expected to do with their kids. He imagined Annabelle growing up, needing or at least hoping, he would show up for her dance recitals, or school plays or Dad’s Day. He was beginning to understand how much more there was to parenting than just providing a child with their day to day physical needs. He was fast learning that those were unimportant compared to their emotional and psychological requirements.
Danielle was Pail’s sister’s daughter. Max remembered her from his youth, when she and family came to visit. She was pretty and he recalled that Ryan had been sweet on her at one time when they were in their teens, after it dawned on him that they weren’t really related. Was his mother attempting a setup after all these years? You and Paul aren’t trying to pull a fast one, are you?
Of course not. You can consider it a date if you like, but really, the two of you would just having dinner with me Paul. Danielle went through a divorce herself a couple of years ago, so she might be a good one to talk no. “I’m not asking you to marry her,” Donna said. “Just come with us to dinner.”
She stepped nearer and leaned in to kiss Annabelle on the cheek. Close enough that he could smell the subtle scent of roses. He drew in a sharp breath and Zoe’s head jerked back sharply. Their eyes met his gaze probing, hers questioning, asking questions neither had answers for. As he watched, her tongue came out and skimmed her lips, as if they’d gone dry suddenly. If they were, they weren’t now. Now they were wet and tempting, full and shapely, begging to be kissed. And he wanted to kiss them. Wanted it more than he remembered ever wanting to kiss a woman.
His head lowered imperceptibly, giving her ample opportunity to stop him, giving him time to gauge her reaction, prolonging the anticipation growing inside him. Amazingly, she didn’t back away. He could hear the soft sighing of her slow, measured breathing and was peripherally aware of the rise and fall of her breasts.
His head lowered more, until their mouths were mere inches apart. He felt her breath now, smelled the hint of spearmint. “Zoe.” Her name was little more than an exhalation of his own breath. Plea. Supplication. Benediction.
She started to turn away, but Max reached out his free hand and grasped her upper arm. Her gaze flew to his once again. There was surprise in her eyes. Maybe even disbelief. It was the first time he had touched her. Her skin was as silky soft as he had imagine, as he had known it would be from his dreams. Soft and warm.





Chapter Eight


As soon as Max left, Zoe began to pace the room. She had to think this through, try to get some perspective on what had just happened. She could tell herself that he hadn’t kissed her, so nothing had really happened, but that would be a lie. Whether or not their lips touched, they had crossed some invisible line in their relationship, and it had begun the moment they trusted each other enough to share the heartbreak of their pasts. They had moved beyond a casual relationship to something more personal, but what? Attraction, for sure. Understanding each other, definitely. What about caring? She liked him, of course, cared for him as a person, as a new friend, even.
If that’s all it is, why are you so jealous? Jealous? Is that what this feeling was? It had been years since she had experience the emotion. Jealousy was something she had never had to deal with during her years with David. He had never given her a reason to feel it. Yet the fact remained that Max was going on a date, and she didn’t like the idea one bit.
Stunned by this new development, Zoe felt tears prickling beneath her eyelids. Granted, Max’s date was a relative of sorts, but they weren’t really related, which meant he might look at her as an available, attractive woman. She probably gorgeous. The kind to knock a man’s sock off. Or his pants. Zoe pressed her hands to her hot cheeks and shook her head. Good grief! Where had that come from? Where was any of this coming from? She couldn’t be jealous. She hardly knew the man.
Maybe so, but if your reaction to him a few minutes ago is anything to go by, that’s something that you obviously want to change.
“No”
Even as the word of denial echoed throughout the emptiness of the room, she knew it was a lie. She wanted nothing more than to see what it felt like to have those lips moving over hers. She wouldn’t be happy until she felt his arms around her and experienced the touch of his body pressed against hers. And heaven help her, she wouldn’t be satisfied until she felt what it was like to be possessed by him, body, heart and soul. To be loved by him.
Love? She gave a little cry of despair. The thought that she could be falling in love with Max frightened her more than the idea of living alone without David. Not the notion of love itself. She had always hoped she would find another man to spend the rest her life with. But falling in love with a man like Max wasn’t in her plans. Max was entirely too much like the men she had fallen for in the past….before David.
No, that wasn’t true. Max wasn’t a self centered, selfish man, but neither was he a sharing sort of man. He wouldn’t come home at the end of his day and tell her what was bothering him. He wasn’t the kind of man to talk things through or disclose his hopes, dreams or fears. He would guard his hopes, fearing they wouldn’t materialize. He would watch out for his dreams, certain something might happen to keep them from coming true. And he would deny his fears, feeling they might be a sign of weakness. Weakness of any kind, real or imagined was poison to man like Max Murdock.



Chapter Nine


Max sat in the fancy Little Rock restaurant, as nervous as a kid on his first date. In a way, he supposed it was. Funny, he didn’t remember feeling so insecure as a teenager. Nervous, maybe, but no so…vulnerable. Maybe it had something to do with having failed in the most important relationship of his life. Danielle seemed a little shy, too, even though they had known each other for years. Max wondered if she dated much since the breakup of her marriage and if she was racked with the same self doubt. Thank goodness his mother and Paul were there to keep the conversation afloat as they were doing now, while he enjoyed his prime rib and half listened to the ebb and flow of conversation.
He glanced at the woman sitting next to him, her shoulders bare in a floral dress that had Class stamped all over it. Dani was exactly the type he always seemed drawn to. She had a nice body, too ripe curves in all the right places, long legs and a tiny waist. In fact, she was put together a lot like Cara. Dani looked like the kind of woman who spent a lot of time at the gym doing step aerobics and dancing with dumbbells and ankle weights, again like Cara. The time she must put in paid off. With her long dark hair and huge brown eyes, she was a drop-dead gorgeous package. He put a mental X in the plus column. As the evening progressed, he had been tallying up her pluses and minuses.
Rolling to her back, Zoe stared up at the moon-dappled ceiling an imagined him going through his night time ritual. He had go to his room and undress. She couldn’t imagine him wearing pajamas. Did he sleep in his shorts or in the nude? She gave a little moan and closed her eyes, only be assaulted by the disturbing image of a naked Max. her fingers curled into the sheet that lay on top of her. Of course, she didn’t know exactly what he would he look like without his clothes. She had seen him in shorts several times and once without his shirt, but she was a creative woman with a comprehensive knowledge of anatomy. Her imagination filled in the blanks quite nicely. She imagined him coming to her, crossing the room in the moonlight, taking her in his arms and pulling her close to his hard, warm body. For the first time since David’s death, she found her self totally overtaken by the acute pain of an intense desire.
Something in his eyes caused her take an involuntary step back. He reached out and grasped her upper arm with one hand. Her flesh was warm, soft. She looked up at him an expression in her eyes that teetered between query and anticipation. He pulled her into his arms, none too gently, swallowing her gasp of surprise with a hard, hungry kiss.
He had dreamed of kissing her for weeks, maybe since the first moment he had seen her. There was something about her that spoke of wholesomeness and innocence. The girl next door. A good girl. Her candor challenged him, taunted him as did the knowledge that she was naked beneath that demure demeanor. He wasn’t sure what he expected from her. Hesitance, maybe, after the reluctance he had sensed in her the day before. Indignation that he had do such a thing, righteous anger, even.






Chapter Ten


The soft dove gray of predawn had softened the sharp edges of night. The sun would rise soon. What kind of day would it bring? Max wondered. He lay on the banquette, his head resting no one forearm. In her gown, Zoe lay beside him, her head tucked beneath his chin, the scent of her as sweet as the flowers blooming around the gazebo. His free hand was tangled in the fiery skein of her hair, his fingertips reveling in its silky texture. Her breath was soft against his chest. He knew now, firsthand, that there was indeed passion beneath Zoe’s façade of wholesomeness. He knew now that one didn’t necessarily preclude the other, just as he knew the wholesomeness-the goodness-in her was not concocted. As she gave her all to her children, she had given her all to him.
What about Max? his feelings would help dictate where they went from here. She had never been in a situation like this before. She wasn’t the type to indulge it an affair, which left what? Marriage? She gave a little movement of her head and felt Max’s hand smoothing her hair, soothing hair. Marriage was out of the question.
Somehow, even making love a second time, she managed to get inside and into the shower before she heard the boys waking. She knew they had head to the den to turn on television, where they had stay until hunger drove them to look for her. As she stood beneath the warm spray, the soft terry cloth moving with slow languor over her body, erasing every outward vestige of what happened between her and Max, her mind replayed every kiss, every touch. She would never forget the dominance yet gentleness of his possession. She would never forget him.
A baby. The possibility of a baby was a sobering thought, thought it didn’t frighten him as much as it might have a couple of months ago. Still, he wasn’t hankering to become a father again. Damn! He couldn’t believe he had acted so irresponsibly. But he had, and he had just have to deal with the fallout, whatever it might be.
“ Don’t be afraid to love again, Max,” his mother said. “And I’m not talking about Zoe, necessarily. I do think you have learned a lot of things about yourself and where you went wrong in your marriage, and I don’t believe you will make those mistakes again. On the other hand, I understand very well how frightening it is to put your heart out there and take a chance on getting hurt again. I remember feeling a bit like that when I started dating Paul. But we can’t dictate our feelings, and the heart has no conception of time. It just feels, and if its right, you will know it, no matter who it is or how much time passed. ” She winked at him. “Remember, you have good instincts.”
Listening to her calm rationale quieted Max’s fears, at least for the moment. If only he hadn’t messed things up by making love to Zoe, he might actually feel comfortable pursuing a relationship with her…at a more leisurely pace, “How did you get so smart?” he asked.
“I’m not smart. I’m just old,” she said, smiling.
“Be serious, Mom.”
“All right. My take on wisdom is that we get smarter if we learn from our mistakes. It’s sort of like what you told your Sunday school teacher when you were in the fourth grade.”


Chapter Eleven


Zoe was in the garden, picking lettuce for dinner when she heard Max’s car coming down the lane. She tried to ignore the sudden racing of her heart, but didn’t quite manage to. She wondered if he would stop, if she should stop him. Should she be cheerful or blasé, or act as if nothing had happened? Maybe she would just try to gauge his feelings and follow his lead.
Max was wearing jeans and an Hawaiian print shirt that was halfway unbuttoned, revealing the mat of curly dark hair that she knew firsthand was silky soft. He was wearing mirrored sunglasses so she couldn’t see the expression in his eyes, which made assessing his mood that much harder.
Max reached up and whipped off the glasses, folded the earpieces together and stuck them into his shirt pocket. The expression in his dark eyes was one of caution, what maybe just a hint of worry.
“Thank you.” Seeing that her brief moment of defiance had gained the desired results, she gathered her meager courage and decided the best course of action was to take the offensive. “So” she said, taking her hands from her pockets and crossing her arms over her breasts. “Since were are in agreement on that, where do we go from here?”
“Where do you think we should go from here?” he asked.
What if she tossed a little guilt his way? “Since I didn’t exactly expect last night, I have no idea what should happen next.”
The comment had the desired effect. Guilt filled Max’s eyes…and Zoe’s heart for putting the blame so squarely on him.
“I take full responsibility,” he told her. “I don’t know why it happened, except that somehow you have gotten under my skin in a way no woman has for a long time.”
“You make me sound like some kind of nasty rash,” she quipped.
A brief, dry smile claimed his mouth. “No. never nasty”
Thank goodness Sunday was a day respite. Max did his weekend chores, glad he didn’t have to look at when they had talked the previous afternoon. He told himself he shouldn’t be feeling any guilt at all since she had acted pretty offhand about it. He had her figure for the kind of woman who wouldn’t go into situation like that lightly, but surprisingly, she had blown the whole thing off, as any woman of the world might do. He should be feeling good about the whole thing. Why didn’t he?
Because of that look in her eyes.
Oh, she had said all the things that should have made him feel better, but there had been those tears she had tried so hard not to shed and that look in her eyes that reminded him of a puppy that had been kicked one time too many. He might not be the most sensitive man ever born, but he wasn’t exactly stupid, either. The evidence didn’t add up, and his guilt was rooted in the notion that she had said the things he wanted to hear so he wouldn’t feel pressured into making some sort of commitment. It was the kind of thing he had expect from her, the kind of thing that made her so desirable.




Chapter Twelve


Cara ! Zoe knew her mouth had dropped open in surprise. If Max was shocked to see his ex-wife, it didn’t show.
“How did you find me?” He asked.
“I hired a private investigator,” she said. “It really wasn’t too hard , since you weren’t trying to hide.”
“What are you doing here?” he asked again, wary concern in his eyes.
Cara glanced from him to Zoe, who held Annabelle on her lip. Ignoring his question, Cara said, “Aren’t you going to introduce me to your…friend?” Zoe thought she saw a hint of uncertainty in Cara’s eyes.
“Zoe, this is the former Mrs. Murdock. Cara, this is Zoe Barlow, my landlady. She looks after Annabelle while I work.”
Cara’s skeptical gaze examined Zoe from head to toe. She wished she had done something to make herself more presentable before she had come to have it out with Max, not that she had ever be able to complete with someone who looked like Cara Murdock.
“Nice to meet you, Mrs. Barlow,” Max’s ex said. Thank you for taking care of may daughter.“
He looked down at her for long moments, as if he were trying to see into her very soul. Filled with her own confusion and fears, Zoe had no idea what he saw there. Finally, he took the baby from her. Zoe glanced at Cara as she passed, but went down the back steps without speaking. What could she say? Nice to meet you? Hardly. Cara Murdock coming was just another obstacle in the many that separated Zoe and Max. zoe heard Annabelle start to cry and hardened her heart to the sound. She couldn’t take it. Not now.
Max watched Zoe go and felt as if she were taking a part of him with her. Annabelle, too, seemed to know something was amiss, because she stretched out her arms toward Zoe and began to cry. Zoe didn’t even look back.
“It seem Annabelle has gotten attached to Mrs. Barlow.”
The sound of Cara’s voice pulled Max roughly back to the moment. He was eager to get this talk over with. “She has.” He moved to the door and held it open for his ex-wife. “Go on in.”
She preceded him through the kitchen to the living dining area, looking around with interest. Her smile was strained. “It looks like you, somehow. You never did seem to fit into our contemporary setting.”
Max was still trying to gauge her feelings. She had made little response one way or the other about his loving her and the boys. Still, she hadn’t said she didn’t feel anything for him, either. He hoped that was a good sign. He pushed a swath of dump auburn hair aside and rested his hands on her shoulders.





Epilogue


One year later…

So pregnant she felt ready to pop, Zoe sat at the drafting table in the room that had once hosed the previous owner’s castoffs and was now her art studio. She held a paintbrush in one hand and pressed the other to the small of her back.
“Honey, Joyce Kincannon is on the phone,” Max said, poking his head through the partially open door. “Do you think you’ll be finished with that cover art by the end of the week? They are really anxious to get it. Everyone is pumped for Ace’s next book.”
She look up and smiled, but before she could answer her husband of one year, Chris appeared to stand beside Max. “Mom, Annabelle had an accident.”
“Mom,!” Chris Yelled. “ Annabelle took off her dirty diaper and Mutt grabbed it.
“Ahg!” Max said, waving the air. “Put that down, you stupid dog. Ed, gotta go. Now.”
Max turned of the phone. Grabbed the smelly diaper from the dog, taped it together as best he could and tossed it into the trash.
“Take this trash out, please,” he said to Chris, who had reappeared in the doorway, “ and make that darned dog go outside. Who let him in, anyway?” “Without waiting for an answer, he looked at Zoe.” We’ have just got to get him neutered.”
Zoe smiled as a feeling of déjà vu swept over her. “Who, Chris” she asked with a smile.
“Chris?” he said, dumbfounded. “I’m talking about the dog.” He turned back to Chris. “Put your sister into the tub. Then call Celia and tell her to get over here, pronto. Your mom’s going to have the baby.”
“The baby?” Chris said. “Wow!”
“Mom’s having the baby?” Mike said, running to the doorway, Dany close behind. Max turned to Mike and pointed a finger at him. “You are forbidden to watch TV tonight for disobeying your mom. Ditto to you Danny for not respecting your brother’s things.“ Finger still pointed, he turned in the room, making sure he had given all the orders he intended. His gaze fell on Zoe , the only one left. She stood leaning against the drafting table, laughing while tears ran down her cheeks.
“What?” Max’s eyes were wide with concern as he crossed the room and pulled her into his arms. “Now don’t go hysterical on me, honey.” “I’ll get you to the hospital on time, I promise.”
She shook her head and placed one hand against his whisker- stubble cheek. “I love you”
“We’ll, I’m really glad to her that since your are about to have my baby, thoigh as cranky as I’ve been lately I can’t imagine why you do.”
“Why?” she said. “Because you are my hero. Saint Max”

Persiapan Menjadi Ibu Idaman

Persiapan Menjadi Ibu Idaman
Oleh Rasyidah Munir

Semasa gadis, biasanya seorang muslim merasa bahwa mempersiapkan diri untuk menjadi ibu idaman bagi anak anaknya kelak merupakan sesuatu yang terlalu dini dan bukan saatnya. Mereka mengira bahwa persiapan itu meliputi hal yang berkisar peralatan anak, menyusui yang sehat dan benar serta hal-hal yang harus langsung "praktek.". Padahal bukan hanya itu, mempersiapkan diri menjadi ibu idaman kelak sama saja dengan mempersiapkan diri untuk menjadi pencetak generasi mujahid /mujahidah yang akan memikul tanggung jawab memberlakukan Islam di muka bumi. Bukankah itu tanggung jawab yang besar dan berat ?, yang persiapannnya tidak mungkin secara “dadakan” .
Jika kita tengok pada masa lampau ternyata pada saat itu telah tumbuh generasi yang memiliki mental mujahid sekaligus memiliki intelektual mujtahid, pada diri mereka tertanam keyakinan kuat bahwa mereka ada semata mata demi dan untuk Islam. Akhirnya dengan kualitas seperti ini mengantarkan ummat Islam menjadi sebaik baiknya ummat atau khairu Ummah. Inilah yang disebut dengan keberhasilan menjadi seorang ibu .

Dimulai dari diri sendiri
Apabila menjadi ibu idaman adalah sosok ibu yang dapat menciptakan generasi sebaik- baiknya dimata Islam maka menata diri sendiri sejak dini adalah langkah awal yang harus dilakukan.

1. Memiliki Prinsip Hidup yang Jelas.
Sebagai seorang muslimah tentu menjadikan aqidah Islam sebagai dasar bangunan pemikiran dan perasaannya (segala kecenderungannya). Dalam diri seorang muslimah tidak ada istilah “saya hidup seperti air mengalir, kemana air bergerak, ya ikuti saja”. Moto hidup seperti ini menunjukkan orang yang menjalaninya tidak punya pendirian dan prinsip hidup yang jelas, menyerahkan dirinya pada fakta dan realitas yang terjadi, terbawa arus!. Bagaimana mungkin akan membentuk generasi yang kuat jika ibunya tidak punya pendirian?.

2. Mengkaji dan Mengumpulkan Sebanyak Banyaknya Ilmu dan Wawasan.
Pemahaman merupakan kunci dalam bertingkah laku. Seorang akan selalu tergantung dengan apa yang dipahaminya. Jika pemahamannya salah, tentu tingkah lakunya akan salah pula. Dalam hal ini pemahaman yang harus dimiliki , meliputi seluruh aspak kehidupan , sebab yang kita jalani adalah kehidupan itu sendiri , dan yang akan kita bina adalah anak anak yang juga akan menjalani kehidupan .

3. Memahami Konsep Memilih Pasangan Hidup.
Menjadi seorang ibu , yang akan membina dan mendidik anak- anaknya tentulah melalui proses pernikahan terlebih dahulu. Memilih pasangan yang akan menjadi teman hidup dalam ikatan pernikahan dan yang akan menjadi ayah dari anak anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari pasangan hidup ( calon suami) yang masih dalam ruang lingkup kekuasaan manusia sehingga masih bisa diusahakan secara maksimal oleh manusia itu sendiri.
Hadits Rasulullah SAW yang berbunyi :

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya, maka carilah wanita yang taat beragama agar engkau beruntung “(HR Alkhamsah).

pada dasarnya berlaku pula untuk wanita untuk mencari pasangan hidup. Maka taat beragama adalah kriteria yang sebaiknya menjadi ukuran pertama, saat wanita memilih calon suaminya. begitu pula hadits Rasulullah SAW :

“Apabila datang seorang laki laki kepadamu untuk melamar. dan engkau pandang baik agama dan akhlaknya maka nikahkannlah dia, sebab jika tidak, akan terjadi fitnah dan kerusakan dimuka bumi … (HR Tirmidzi)

4. Memahami Konsep Pergaulan yang Islami
Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari interaksi sesama mereka. Saling menolong, bekerja sama dalam mewujudkan maslahat hidup, diantara laki-laki dan perempuan. Tetapi jelas ada aturannya. Tidak adanya pemahaman terhadap aturan ini, mengakibatkan terjadinya salah bergaul, pergaulan bebas dan pelanggaran syariat lainnya., kalau ini terjadi, kemudian lahir anak anak hasil pelanggaran syariat, bukan ibu dambaan yang dimiliki si anak tersebut pada saat itu, akhirnya akan sulit ia membangun kepercayaan anak dan kewibawaan seorang ibu dimata anaknya kelak , dengan begitu akan sulitlah ia mengarahkan dan membina anak anaknya tanpa rasa percaya dan wibawa tadi .
Aturan pergaulan Islami ini pula yang harus ditanamkan dan dijelaskan kepada anak anaknya kelak yang meliputi :
- Aturan menutup aurat
- Aturan memakai aturan yang sempurna bagi wanita
- Larangan khalwat
- Perintah menundukkan pandangan
- Tidak tabarruj (menonjolkan kecantikan / perhiasan pada laki laki non mahrom)
- Larangan berinteraksi yang tidak “hajat syar’i “.

5. Memahami Konsep Khitbah dan Pernikahan
Remaja sekarang sering mempersamakan kata ta’aruf dengan istilah “pacaran islami” dan khitbah dengan istilah “tunangan”. Padahal dua istilah ini jauh sekali maknanya dengan kata yang di plesetkannya.
Ta’aruf adalah mengenal. dan ini diperbolehkan selama tetap tidak melanggar rambu rambu syariat dalam pergaulan. Sementara pacaran yang islami tentu tidak ada tuntunannya dalam Islam . Istilah ini menjurus pada aktivitas yang sekedar diberi label Islam saja, padahal hakikatnya tetap berisi pelanggaran terhadap syariat Islam, silahkan buktikan!!.
Khitbah adalah proses meminang / melamar dari seorang laki- laki kepada wanita yang ingin dinikahinya baik secara langsung atau melalui walinya. Hal ini adalah proses yang harus dilalui sebelum adanya akad dalam pernikahan . Sementara tunangan, bukanlah khitbah, dia hanya merupakan kebudayaan masyarakat tertentu untuk mengumumkan adanya ikatan khitbah biasanya dengan acara tukar cincin dll. Prosesi seperti ini tidak dicontohkan dalam Islam .
Pernikahan merupakan akad yang dilakukan oleh sepasang laki laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan laki laki dan wanita tersebut. dengan beberapa aturan pernikahan dan syarat sahnya akad nikah maka akan selamatlah kehidupan rumah tangga diantara dua orang tadi.

6. Memahami Bagaimana Kehidupan Rumah Tangga dan Kiat-Kiat Untuk Mengarungi Bahteranya .
“Pengalaman adalah guru yang terbaik”, sepertinya pepatah ini kurang berlaku untuk persiapan menjadi ibu dan pengatur rumah tangga idaman, sebab, tidak harus melakukan dulu, baru seseorang akan bebas daari kesalahan atau kegagalan jika memang itu berlaku, maka tidak usah ada persiapan seorang muslimah bisa mempelajari dan memahami point ini dari sekarang. Banyak kehidupan rumah tangga orang lain yang bisa dijadikan gambaran sebagai contoh aplikasi. Kegagalan orang lain, menjadi pelajaran bagi kita, keberhasilan orang lain menjadi motivasi bagi kita dan itu bukan sekedar teori.
Beberapa hal yang harus difahami :
- Makna hubungan suami istri sebagai sahabat antara satu dengan yang lain, bukan sebagai rekan kerja , atau anatara bos dan karyawan.
- Saling menyayangi dan membagi ketentraman (QS Ar-Rum : 21)
- Berlomba menunaikan kewajiban dan memberikan hak pada pasangan masing-masing (QS al-Baqarah : 228)
- Saling mempergauli dengan cara-cara yang ma’ruf dan meringankan beban (QS an Nisa :19)
- Dsb
Ketentraman dalam kehidupan rumah tangga akan lahir darinya anak-anak yang senantiasa ikut berterima kasih, sayang dan saling memberikan ketentraman (qurrata ‘ayun).

7. Memahami Konsep Pengasuhan dan Pendidikan Anak
Tidak ada seorang ibu yang ingin anaknya tidak soleh meskipun cerdas, berhasil dalam ekonomi, terpandang, berparas cantik atau ganteng, namun ternyata tidak soleh/solehah hal ini tidak akan membahagiakan.. Sangat menyakitkan bagi seorang ibu manakala anaknya menjadi seorang pembangkang, dan berkata menyinggung perasaan dan berbuat tidak sesuai dengan keinginan dan harapan. Naudzubillahi min dzalik.
Maka pergaulan dan pendidikan anak menjadi kunci dalam pembentukan kepribadian mereka .
Hal-hal yang perlu difahami :
- menunaikan hak anak dengan penyusuan maksimal dua tahun
- mencurahkan kasih sayang
- memberikan contoh yang benar dalam segala hal
- menjadi tempat bertanya dan mencari solusi bagi anak anak
- berbahasa dengan baik dan fasih (benar dan jelas)
- peka terhadap lingkungan.
- dll

Sabtu, 27 Februari 2010

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan merupakan pembelajaran tentang kehidupan manusia di dalam beragam fungsi dan kebutuhan. Dalam pembelajaran terkandung upaya pemenuhan fungsi-fungsi sosial, ekonomi dan politik, serta beragam kebutuhan materiel dan spiritual lainnya agar ia bisa tumbuh sebagai manusia normal dan sehat. Kemampuan seseorang untuk bisa hidup sebagai warga negara, komunitas keagamaan atau etnis, hingga ketetanggaan dan kampung, memerlukan sebuah aksi pembelajaran. Demikian pula kemampuan memenuhi kebutuhan biologis berkeluarga dan makan-minum dengan bekerja. Tetapi bukan hanya itu fungsi pendidikan. Fungsi lain adalah pengembangan potensi-potensi yang ada pada individu-individu supaya dapat dipergunakan olehnya sendiri dan seterusnya oleh masyarakatnya untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan yang selalu berubah.
Berbicara tentang tujuan pendidikan, kita tak dapat memisahkannya dengan tujuan hidup , yaitu tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Manusia, dalam usahanya memelihara kelanjutan hidupnya mewariskan berbagai nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian masyarakatnya bisa hidup terus. Oleh karena tujuan pendidikan itu harus berpangkal pada tujuan hidup, lalu apakah tujuan hidup ini?
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, para filosof berbeda pendapat. Orang-orang Sparta, salah satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut mereka adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani. Maka mereka ciptakan berbagai macam olahraga yang sampai sekarang masih dipraktekkan di mana-mana. Sebaliknya orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama, berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran.
Mazhab-mazhab pendidikan Eropa Barat dan Amerika sesudah Descartes (1596-1650 M) mengambil dari kedua mazhab Yunani lama tersebut. Semua mazhab-mazhab itu, beranggapan bahwa dunia inilah tujuan hidup, di sinilah kita bermula dan di sinilah kita berakhir. Dari anggapan ini, mereka ada yang mengingkari adanya Tuhan, hari akhirat dan lain-lain, seperti para filosof Marxist, ada juga yang tidak begitu yakin akan ada atau tidak adanya Tuhan dan hari akhirat, seperti Kant, golongan rasionalis, eksistensialis dan lain-lain. Persis seperti ayat al-Quran berikut ini yang menggambarkan orang-orang dahriyyun (naturalis)
وَقَالُوْا مَا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلاَّ الدّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّوْنَ {الجاثية : 24}
Artinya :
”Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
Islam memberi jawaban yang tegas dalam hal ini, seperti firman Allah dalam Q.S. Al-Dzariyat : 56, yang artinya :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Menyembah atau “ibadah” dalam pengertiannya yang luas berarti mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada diri manusia menurut petunjuk Allah. Misalnya Allah memerintah manusia untuk melaksanakan sholat (salah satu ibadah formal) kepada-Nya, dengan berbuat demikian manusia menjadi suci, dari segi rohani, pikiran dan jasmani. Dalam melaksanakan sholat, maka seseorang harus suci dari hadas besar dan hadas kecil, juga tidak boleh sholat pura-pura atau karena riya. Selain itu roh kita menjadi suci sebab kita terhindar dari perbuatan jahat dan munkar. Jadi dengan melaksanakan salah satu perintah-Nya tersebut, maka manusia menjadi suci dari segala sesuatu, jadi ia mengembangkan pada dirinya salah satu sifat Allah, yaitu Maha Suci (Al-Quddus). Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya seperti zakat, puasa, haji dan syahadat, kalau diikuti pula dengan ibadah-ibadah tidak formal lainnya seperti berdagang, berumah tangga, menuntut ilmu yang semuanya menurut syarat-syarat yang ditentukan oleh syari’at tentulah sifat-sifat Tuhan yang banyak itu berkembang pada diri manusia dan ia semakin mendekati kesempurnaan.
Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan.
Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam dapat dibagi kepada tiga bagian berikut ini :
A. Tujuan Individual
Pada bagian ini tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya pribadi muslim yang baik, yaitu seseorang yang berpikir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang semacam ini hidup sejalan dengan akidah Islamiyahnya, serta mati dalam keadaan beragama Islam.
Seseorang yang menuntut ilmu hendaknya berupaya untuk memahami tujuan perintah dan larangan serta segala ucapan yang datang dari rasul. Selanjutnya jika hati seseorang telah meyakini bahwa apa yang dijalaninya itu sebagai yang dikehendaki rasul, maka janganlah berpaling kepada jalan yang lain.
Pribadi muslim yang baik adalah orang yang sempurna kepribadiannya, yaitu yang lurus jalan pikiran serta jiwanya, bersih keyakinannya, kuat jiwanya, sanggup melaksanakan segala perintah agama dengan jelas dan sempurna.
B. Tujuan Sosial
Pada dasarnya manusia itu memiliki dua sisi kehidupan, yaitu sisi kehidupan individual yang berhubungan dengan beriman kepada Allah dan sisi kehidupan sosial yang berhubungan dengan masyarakat, tempat manusia itu hidup. Oleh karena itu, Pendidikan juga harus diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Seseorang hendaknya menjadi ahli As-Sunnah, yaitu orang yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, tunduk kepada kebenaran (al-haqq) dan kasih sayang pada orang lain. Orang yang membaca Al-Qur’an, giat dalam shalat dan puasa, tetapi membiarkan dan membuat kaum muslimin lainnya bergelimang dalam dosa dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan agama, saling mendustai dan sebagainya adalah seorang yang ahli bid’ah.
Pada tujuan sosial ini, pendidikan diarahkan agar dapat melahirkan manusia-manusia yang dapat hidup bersama dengan orang lain, saling membantu, menasehati, mengatasi masalah, dan seterusnya.
C. Tujuan Da’wah Islamiyah
Allah SWT telah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan memberi peringatan, sehingga segenap manusia hanya mengikuti Allah dan Rasul-Nya saja. Sementara manusia juga memikul beban mengajak manusia lainnya kepada jalan yang baik dan mencegah berbuat buruk. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang berbunyi :
كُنْتُمْ خَيْرُ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ........ {ال- عمران : 110}
Artinya :
“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Abu Hurairah mengatakan bahwa kehadiran manusia yang datang kepada manusia yang lain dengan dakwah adalah berupaya melepaskan belenggu dari rantai kebodohan sehingga mereka itu dapat masuk surga. Orang semacam itu rela mengorbankan harta dan jiwanya dalam berjuang untuk kemanfaatan manusia. Orang seperti inilah yang termasuk ummat yang baik. Makhluk itu tak ubahnya bagaikan keluarga Allah, mereka berusaha mencintai Allah dengan jalan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi makhluk-Nya itu.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tahap ketiga ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menyebar-luaskan ilmu dan ma’rifat yang didatangkan Al-Qur’an al-Karim sebagaimana hal itu dilakukan kaum salaf. Kedua dengan cara berjihad yang sungguh-sungguh sehingga kalimat Allah yang demikian tinggi itu dapat berdiri tegak.
Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam ialah menumbuh-kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Oleh karena itu, berbicara pendidikan Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga dalam rangka menuai kesempurnaan hidup (keberhasilan hidup (hasanah) di dunia bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) di akhirat kelak).
Wallahu A’lam.

Mengapa krisis ekonomi yang melanda negeri kita berkembang menjadi krisis moral bahkan krisis kemanusiaan? Eratkah kaitannya dengan dunia pendidikan di negeri kita? jelaskan !
Jawab :
Krisis moral berkaitan dengan kegagalan suatu sistem pendidikan, termasuk kegagalan pendidikan Islam, baik di lingkungan sekolah, masyarakat ataupun keluarga. Selama ini praktek pendidikan hanya menyentuh wilayah teori dan doktrin moral, tanpa keterlibatan murid dan guru dalam peristiwa yang melatarbelakangi sebuah teori dan doktrin moral. Teori iptek dan moralitas atau akhlak hanya menjadi bahan kajian, bukan sebagai wahana pembelajaran tentang kelahiran sebuah teori dan nilai moral yang membuka ruang bagi keterlibatan kesadaran murid dan guru di dalamnya. Pendidikan atau sekolah, seperti kegiatan belajar mengajar, diberi makna terbatas sebagai “ transfer ilmu dan nilai” bukan sebagai belajar hidup dan belajar ilmu”.
Model dan praktek pendidikan seperti ini menyebabkan anak-anak tidak memilki pengalaman memperoleh nilai dan iptek seperti yang dialami para guru mereka sebelumnya. Akibatnya pendidikan gagal berfungsi sebagai wahana anak-anak untuk bisa belajar hidup dengan segala persoalan yang ada di dalamnya.
Jelaskan apa tujuan pendidikan Islam ?
Jawab :
Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan.
Berbicara tentang tujuan pendidikan, kita tak dapat memisahkannya dengan tujuan hidup, yaitu tujuan hidup manusia. Dalam hal ini para filosof berbeda pendapat. Misalnya orang-orang Sparta, salah satu kerajaan Yunani lama berpendapat bahwa tujuan hidup adalah untuk berbakti kepada negara, untuk memperkuat negara. Dan pengertian kuat menurut mereka adalah kekuatan fisik. Oleh sebab itu tujuan pendidikan sparta adalah sejajar dengan tujuan hidup mereka, yaitu memperkuat, memperindah dan memperteguh jasmani. Maka mereka ciptakan berbagai macam olahraga yang sampai sekarang masih dipraktekkan di mana-mana. Berbeda dengan orang Athena, juga salah satu kerajaan Yunani lama, berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran.
Islam memberi jawaban yang tegas dalam hal ini, seperti firman Allah dalam Q.S. Al-Dzariyat : 56, yaitu :
Menyembah atau “ibadah” dalam pengertiannya yang luas berarti mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada diri manusia menurut petunjuk Allah. Misalnya Allah memerintah manusia untuk melaksanakan sholat (salah satu ibadah formal) kepada-Nya, dengan berbuat demikian manusia menjadi suci, dari segi rohani, pikiran dan jasmani. Jadi ia mengembangkan pada dirinya salah satu sifat Allah, yaitu Maha Suci (Al-Quddus). Begitu juga dengan ibadah-ibadah lainnya seperti zakat, puasa, haji dan syahadat, kalau diikuti pula dengan ibadah-ibadah tidak formal lainnya seperti berdagang, berumah tangga, menuntut ilmu yang semuanya menurut syarat-syarat yang ditentukan oleh syari’at tentulah sifat-sifat Tuhan yang banyak itu berkembang pada diri manusia dan ia semakin mendekati kesempurnaan.
Kesimpulannya, tujuan pendidikan Islam ialah menumbuh kembangkan pribadi anak didik sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar dalam rangka menuai kesempurnaan hidup, yaitu kebaikan (hasanah) di dunia yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan di akhirat kelak.

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengertian
1. Pengertian Sistem
Sistem adalah kesatuan yang terorganisir, terdiri atas jumlah komponen yang saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan (Ahmad Supardi, 1999 : 36). Sedangkan Pupuh Faturahman (2001 : 34) memberikan batasan sebagai berikut : (1) Sistem adalah suatu kesatuan yang terorganisir, terdiri atas sejumlah komponen yang berhubungan dalam rangka mencapai tujuan yang ingin dicapai. (2) Sistem adalah sekelompok objek/bagian yang independen dan berhubungan satu sama lain. (3) Sistem adalah seperangkat bagian yang telah dikoordinasi untuk mencapai seperangkat tujuan.
Dari definisi di atas dapat diambil pengertian bahwa sistem terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya. Perpaduan antara komponen tersebut pada tahap operasionalnya dipandang sebagai faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan. Untuk itu setidaknya dalam sebuah sistem; keintegrasian, keteraturan, keutuhan, keterorganisasian dan ketergantungan antara komponen yang satu dengan komponen yang lain harus betul-betul dikoordinasikan.
2. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata didik, lalu kata itu mendapat awalan “me” sehingga menjadi mendidik artinya memelihara dan memberikan latihan (KBBI, 1992 : 232). Sedangkan secara terminologis mendefinisikan kata pendidikan dari berbagai tujuan ada yang melihat arti pendidikan dari kepentingan dan fungsi yang diembannya, atau ada yang melihat dari segi proses ataupun ada yang melihat dari aspek yang terkandung di dalamnya.
Definisi pendidikan dikemukakan para ahli dalam rangka mendukung, merumuskan pengertian yang beraneka ragam antara lain, yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam upaya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, pendidikan berusaha keras demi mencapai tujuan yang diharapkan tidak lain adalah mengharapkan munculnya manusia atau tumbuhnya manusia yang mapan dari segi mental dan spiritual dan berkembangnya segi rohani serta jasmani sehingga menjadi manusia paripurna. Sebagaimana pendapat Ahmad B. Marimba (1962 : 19) bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si pendidik menuju kepribadian yang utama.
Dalam memberikan bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan cuma-cuma terhadap orang yang benar-benar membutuhkan, pendidikan tidak diberikan begitu saja akan tetapi pendidikan mempunyai komponen-komponen tertentu seperti adanya tujuan, cara untuk menyampaikan kandungan itu. Seperti dijelaskan Hasan Langgulung (1986 : 33) bahwa pendidikan mempunyai komponen yakni ada tiga komponen (1) Tujuan (2) Kandungan (3) Metode. Komponen itu merupakan unsur pendidikan yang terpisahkan, karena pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada anak atau terhadap orang yang di didik.
3. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang islami, artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan faktor, upaya dan kegiatan pendidikan bersifat Islam, merujuk kepada konsep-konsep yang terkandung dalam ayat-ayat Allah yang tertulis maupun yang tidak tertulis pada setiap tingkatannya, baik filosofis, konsep, teoritis maupun praktis. Sedangkan Ahmad Tafsir memaknai pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan seseorang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

B. Dasar dan Tujuan
1. Dasar
Dasar bisa disebut landasan atau asas, yaitu sesuatu yang dijadikan tempat berpijak dalam melakukan setiap usaha, kegiatan dan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, pendidikan sebagai usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan yang jelas dan kokoh sehingga prosesnya bisa benar-benar terarah.
Sebagaimana kita ketahui bahwa dasar pendidikan Islam adalah al-Qur’an, al-Hadits dan ijtihad para ulama. Ini merupakan sumber dasar religius. Dasar pendidikan Islam identik dengan dasar Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu al-Quran dan al-Hadits. Dari kedua sumber inilah, kemudian muncul sejumlah pemikiran mengenai masalah umat Islam yang meliputi berbagai aspek, termasuk diantaranya masalah pendidikan Islam.
Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam yang mampu mengarungi segala zaman, situasi dan kondisi bagaimanapun. Kalam yang tertuang dalam al-Quran merupakan frame yang harus diterjemahkan dalam pendidikan Islam, sehingga dapat melahirkan output pendidikan yang berkualitas. Suatu sistem pendidikan yang dikembangkan berdasarkan al-Quran akan mewujudkan dan merefleksikan komunitas muslim yang sesuai dengan cita-cita yang diinginkan oleh Islam.
Begitu pula al-Hadits sebagai sumber kedua setelah al-Qur’an juga merupakan landasan yang sama-sama mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Hadits yang merupakan penafsiran al-Quran adalah landasan praktik ajaran Islam secara faktual. Pribadi Nabi Muhammad saw, baik berupa ucapan, perbuatan ataupun ketetapan, merupakan perwujudan dari al-Quran yang ditafsirkan untuk manusia sebagai aktualisasi ajaran Islam yang dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya hadits menjadi salah satu sumber ajaran Islam.
Jika integritas kepribadian Rasulullah dikaji lebih jauh, maka akan didapat kenyataan bahwa ia merupakan seorang pendidik yang agung, memiliki metode pendidikan yang luar biasa, pendidik yang selalu memperhatikan kebutuhan dan tabiat anak didik. Oleh karena itu, pendidikan Islam yang pada akhirnya diharapkan dapat melahirkan manusia-manusia yang dicita-citakan oleh Islam, tentunya juga harus mengacu pada sunnah Nabi yang menggambarkan realitas pendidikan Islam.
Sebagai dasar pendidikan Islam, al-Quran dan al-Hadits adalah rujukan untuk mencari, membuat dan mengembangkan konsep, prinsip, teori dan teknik pendidikan Islam. Rasa dan pikiran manusia yang bergerak dalam kegiatan pendidikan mestilah bertolak dari keyakinan tentang kebenaran al-Quran dan al-Hadits. Selain itu, keduanya juga merupakan kerangka normatif-teoritis pendidikan Islam. Keduanya adalah sumber nilai kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya, yang telah memperkenalkan dan mengajarkan manusia untuk selalu berpikir. Karena itu, keduanya sudah semestinya dijadikan sebagai dasar pendidikan Islam.
2. Tujuan
Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapainya setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Fungsinya adalah untuk mengarahkan sistem kegiatan pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berproses dan bertahap serta bertingkat. Tujuan menjadi pedoman atau tolak ukur bagi kegiatan pendidikan, penetapan materi, metode, evaluasi yang akan dilakukan. Makanya tujuan pendidikan menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam pendidikan.
Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Seseorang baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan jika ia memahami secara benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan tujuan ini selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan.
Berbicara tentang tujuan pendidikan, kita tak dapat memisahkannya dengan tujuan hidup , yaitu tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Manusia, dalam usahanya memelihara kelanjutan hidupnya mewariskan berbagai nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian masyarakatnya bisa hidup terus. Oleh karena tujuan pendidikan itu harus berpangkal pada tujuan hidup, lalu apakah tujuan hidup ini?
Sejarah menggambarkan bagaimana pergumulan ide tentang tujuan hidup manusia tidak pernah tuntas, karena dianggap sangat berharga dan mengakar untuk dijadikan arah hidup dan kehidupan manusia. Ideologi-ideologi dunia dari mulai marxisme, kapitalisme, ataupun ideologi lainnya adalah bukti akan heterogenitas itu. Lalu bagaimana tujuan hidup manusia menurut ideologi Islam yang otomatis menjadi tujuan pendidikan Islam secara umum ?
Dalam menjawab hal itu, maka tujuan yang diharapkan dengan sendirinya tidak akan terlepas dari dasar yang merupakan titik tolak atau fondamen yang menjadi tempat berpijak dalam setiap melakukan usaha. Al-Quran dan al-Hadits menjadi dasar pendidikan Islam, di dalamnya terdapat penjelasan tentang tujuan hidup manusia.
Firman Allah SWT dalam surat al-baqarah ayat 30 dan adz-dzariyat ayat 56 :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيْفَةً .............. { البقرة : 30 }
Artinya : “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".........
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ {الذاريات : 56 }
Artinya : “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Tujuan hidup manusia menurut Islam tidak bisa terlepas dari ideologi Islam tentang manusia yaitu selaku khalifatullah dan abdullah. Artinya tujuan pendidikan Islam ialah membangun individu yang memiliki kualitas dan peran sebagai khalifah dan abdullah atau dengan kata lain membentuk pribadi yang dapat menjalankan fungsi kemanusiaannya.
Manusia sebagai khalifah, yang potensial untuk menguasai suatu keterampilan pengurusan dunia. Maka dalam hal ini dibutuhkan suatu proses pendidikan yang mampu mengembangkan keterampilan terdidik sehingga mampu mengolah sekecil apapun bagian bumi ini untuk dimakmurkan. Bumi dalam arti benda, gerak, waktu dan tenaga yang ada di dalamnya dari jenis manusia, binatang, tumbuhan, batu-batuan, angin, udara, berjalan, makan, bicara dan lain sebagainya.
Manusia sebagai abdullah, yang potensial untuk mengabdi/beribadah pada-Nya berdasarkan keteguhan iman dan taqwa yang sebenar-benarnya kepada-Nya, tunduk dan patuh kepada ajaran Allah SWT, yang pengejawantahannya akan melahirkan keberadaan manusia yang digambarkan dalam do’a yang selalu dibaca dalam shalat, yang artinya : “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semuanya adalah karena Allah Tuhan sekalian alam.”
Maka pribadi yang dapat menjalankan fungsi kemanusiaannya; individu yang memiliki kualitas dan peran sebagai khalifah dan abdullah, akan menuai kesempurnaan hidup (keberhasilan hidup -hasanah- di dunia, yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan -hasanah- di akhirat kelak).

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT K. H. ABDUL WAHID HASIM

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT
K. H. ABDUL WAHID HASIM

Biografi K.H Abdul Wahid Hasim
Abdul Wahid Hasim lahir pada tanggal 1 Juni 1914 atau bertepatan dengan tanggal 5 Rabi’al-Awal 1333 di Jombang, Jawa Timur. Dia adalah putra Kyai haji (K.H) Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Nama yang diberikan ketika ia lahir adalah Muhammad Asy’ari, meniru nama kakenya. Tetapi karena ia sering sakit, maka nama itu diganti dengan Abdul Wahid, nama salah seorang nenek moyangnya. Selama masa kecilnya ia dipanggil oleh ibunya dengan Mudin, sedang santri ayahnya memanggil dia dengan panggilan Gus Wahid.
Tahun dimana Wahid lahir, menurut Dhofier, mempunyai nilai sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mendasarkan argumentasinya dari analisis yang dikemukakan oleh Berhard Dahm, Dhoifier menyebutkan bahwa Budi Utomo dan Indische Partiji, dua organisasi yang diakui sebagai pelopor dalam pendirian organisasi modern yang bertujuan menumbuhkan kesadaran nasional, telah gagal menjadi organisasi massa yang besar. Berdasarkan fakta yang ada, semejak pendirian kedua organisasi tersebut, Budi Utomo hanya mampu merekrut sekitar 10.000 anggota, sedang Indische mempunyai angota sekitar 7.500 orang. Kegagalan mereka dalam mobilisasi masyarakat secara luas disebabkan, diantarnya, kurang mempunyai para pemimpin Budi Utomo untuk mengidentifikasi kemauan masyarakat secara umum, sedang Indische Partij lebih banyak memfokuskan perhatiannya kepada komunitas Eurasian dan cina.
Organisasi pertama yang berhasil menjadi organisasi massa yang besar adalah Sarekat Islam (SI). Sebelum SI berdiri, telah berdiri sarekat dagang Islam (SDI). yang didirikan oleh Samanhudin pada tahun 1911. Organisasi ini pada mulanya bergerak dalam bidang perdagangan. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 10 september 1912, organisasi ini dirombak dan diganti dengan nama sarekat Islam dengan HOS Tjokroaminoto sebagai ketuanya. Organisasi ini memperluas sasaran perjuangannya dengan mengkonsentrasikan pada masalah politik dan sosial, disamping tetap bergerak dalam bidang ekonomi. Pada awal berdirinya, organisasi ini hanya mempunyai 4.500 anggota.dua tahun kemudian, tahun dimana Wahid Hasim Lahir, keanggotaannya berlipat sampai berjumlah 366.913 orang.
Kondisi politik dan sentimen keagamaan yang begitu kental pada waktu itu mungkin tidak mempunyai arti bagi anak-anak akan tetapi kondisi waktu itu mempunyai arti sangat penting bagi Wahid Hasim sebagai anak Ulama yang terkenal dan khasismatik, K.H. Hasim Asy’ari yang mana semua pemimpin nasional, seperti Jendral Sudirman dan Bung Tomo seiring bersilaturahim guna mendapatkan nasehat dan petunjuk atas persoalan agama dan politik.
Melacak nenek moyang baik dari segi garis Ayah maupun Ibu, Wahid Hasim berasal dari keluarga yang agamis. Ini berarti bahwa dia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang agamis. Ibunya, Nafiqah, adalah anak dari Kyai Ilyas seorang kyai yang terkenal dari pesantren Sewulan Madium, sedang dari garis keturunan ayah, dia merupakan keturunan dari ulama yang sangat dihormati. Ayah, kakek dan kakek buyutnya adalah ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mengajar ilmu agama dan yang mengilhami berdirinya pesantren di Pulau Jawa. Ayah Wahid Hasim sendiri, Hasim Asy’ari, adalah pendiri pesantren Jombang. Kakeknya, K.H. Asy’ari pendiri pesantern keras Jombang. Sedangkan kakek buyutnya, K.H. Usman, selain dikenal sebagai pendiri pesantren gedang, juga dikenal sebagai ulama yang mengenalkan ajaran tarekat Naqsabandiyah di Jombang, bahkan pesantrennya sebagaimana disinyalir oleh Gus Dur, sebagai pusat gerakan sufi di Jawa Timur.
Sebagai mana seorang Kya’i Hasim Asy’ari menaruh perhatian yang luar biasa dalam pendidikan agama bagi putra-putrinya dengan pertimbangan bahwa pendidikan sebagai elemen dasar dalam pembentukan kepribadian yang baik semejak kecil, Wahid Hasim belajar langsung bimbingan ayahnya. Selain belajar bahasa Arab, ia juga mempelajari yang lainnya, misalnya membaca al-Qur’an sebagai tahap awal dari sitem pembelajaran pesantren. Pada usia 7 tahun Wahid Hasim mulai belajar teks-teks bahasa Arab klasik yang bermaktub dalam kitab kuning.
Perkembangan pengatahuan yang diperoleh Wahid Hasim selalu menjadi perhatian ayahnya. Ketika Wahid Hasim sudah cukup dalam memahami agama ayahnya mengirim dia untuk lebih mendalami ilmu-ilmu agama diberbagai pesantren. Pada usia 13 tahun dia meninggalkan pesantren Tebu Ireng. Pesantren yang pertama dikunjunginya ialah pesantren Siwalan Panji, Siwoardjo, pesantren dimana ayahnya pernah belajar dibawah bimbingan Kya’I Hasim dan kya’I Chozin Panji.
Pada tahun 1936 dia mendirikan perpustakaan dan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Islam (IKPI). Pada tahun 1938, Wahid Hasim ikut terlibat organisasi NU. Dan kemudian ketua cabang NU di Jomlang. 2 tahun kemudian ia dipromosikan menjadi pengurus besar NU tepatnya di Departemen Pendidikan (Ma’arif). Di lembaga inilah ia mempropagandakan ide-ide yang berkaitan dengan kurikulum pesantern dan mereorganisasi-organisasi NU. Wahid Hasim peduli terhadap perpolotikan saat itu, khususnya pada akhirnya penjajahan Belanda dan datangnya bangsa Jepang. Dia terlibat kedalam dalam menetang adanya penjajahan. Pada tahun 1940 ia terpilih menjadi ketua MIAI (Majlis al-Islam al-Ala Indonesia) sebuah pederisasi organisasi Islam pada tahun 1937, dimana NU dan Muhammadiyah menjadi tulang punggungnya. Bersama-sama dengan GAPI (Gabungan Politik Indonesia).
Setelah merdeka 1945, Wahid Hasim bersama ulama-ulama dari kalangan moderis maupun tradisionalis menyenggarakan Muhtawar Indonesia di Yogyakarta. Ia juga dipilih menjadi ketua Masyumi, menjadi mentri agama dalam tiga kabinet (Hatta, Natsir dan Sukirman) dan gagasan ia untuk mendirikan Perguruan Agama Islam Negeri (PTIN) yang kemudian diubah menjadi IAIN.
Ketika NU di bawah kepemimpinanya memutuskan keluar (melepaskan diri) dari Masyumi dan mendeklarasikan berdirinya NU sebagai partai politik pada tahun 1952, Wahid Hasim mencurahkan seluruh tenaganya bagi perkembangan partai tersebut. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 19 April 1953, ia meninggal dunia akibat tabrakan mobil ketika akan menghadirinya rapat NU di Bandung. Dikuburkan di tanah kelahirannya, Jombang dia meninggalkan istri, Solihah, dan enam orang putra. Putra tertuanya adalah Abdurahman al-Dachil, yang populer dipanggil Gus Dur mantan ketua PBNU dan Presiden ke-4.

Karya Wahid Hasim
Wahid Hasim adalah seorang penulis yang cukup produktif. Meskipun dia tidak menulis sebuah buku, berbagai artikel ditulisannya baik meyangkut masalah keagamaan, pendidikan maupun isu sosial politik. Tulisan-tulisnya dipublikasikan di berbagai majalah dan koran. Secara umum, tulisan Wahid Hasim dapat diklasifikasikan menjadi empat yakni pendidikan, politik, administrasi departemen agama, dan agama.
Dalam bidang pendidikan, Wahid Hasim memberikan perhatian terhadap reformasi pendidikan, misalnya pendidikan bagi anak, perkembangan kemampuan bahasa, pendidikan agama, termasuk di dalamnya pendirian perguruan tinggi agama, dan perlunya penggunaan rasio guna menyelesaikan masalah-masalah kekinian. Ia menulis juga sebuah artikel yang berjudul ‘’Abdullah Oebayd sebagai pendidikan’’ dalam artikelnya, dia menjelaskan bagaimana sebaiknya mendidik seorang anak, dia mengatakan bahwa anak-anak harus dilatih sejak dini untuk menggunakan segenap kemampuannya. Ini sangat penting untuk membiasakan mereka bersandar pada dan mengetahui kemampuan mereka sendiri. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dengan percaya diri dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita mereka.
Ia menumbuhkan rasa kebangsaan dengan mendorong anak bangsa untuk menggunakan bahasa Indonesia. Dalam artikelnya ‘’Kemajuan Bahasa, Berarti Kemajuan Bangsa’’ dia juga mengajak bangsa Indonesia menggunakannya sehari-hari dalam kehidupan. Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap adanya kecenderungan menggunakan bahasa asing seperti bahasa Belanda dan Inggris, dalam sehari-harinya. Ekspresinya ‘’good morning atau goeden morgen’’ lebih banyak terdengar dalam masyarakat dibandingkan ‘’selamat pagi’’.
Berdirinya perguruan tinggi agama, menurut Wahid Hasim, merupakan satu cara mencapai kemajuan. Ia menekan bahwa ilmu pengetahuan dapat dikembangkan dalam atmoster keterbukaan, tak dicampuri dengan doktrin agama dan politik. Dalam sambutannya, dia juga menambahkan bahwa perlu menjalin kerja sama antara perguruan tinggi lainnya, misalnya Sekolah Teologi, bahkan ia berharap adanya merger diantara perguruan tinggi tersebut.
Dalam artikelnya juga dituliskan ‘’Siapakah Jang Akan Menang dalam Pemilihan Umum Jang Akan Datang?’’ misalnya, Wahid Hasim secara terang-terangan mengkritiki partai-partai politik yang masih mengutamakan kepentingan indipidualisme keinginan (interest) golongannya di atas kepentingan Negara. Tujuh tahun setelah kemerdekaan, menurutnya tidak membuat Indonesia semakin bagus dalam beberapa aspek lebih buruk. Adanya situasi ini disebabkan partai politik tidak punya spirit untuk maju, tetapi sebaliknya mereka berebut untuk mendapatkan kursi, yakni mengamankan posisi mereka dalam pemerintah, meskipun tidak layak untuk mendudukinya. Wahid Hasim meminta agar partai politik menyadari kelemahan mereka, keluar dari pikiran yang sempit dan picik dan berjuang bagi kejayaan bangsa Indonesia secara umum.
Biografi Wahid Hasim, setidaknya menunjukan bahwa meskipun produk pesantren, dia adalah seorang yang berpikiran maju sebagaimana dibuktikan dengan keterlibatkan dalam berbagai organisasi sosial keagamaan dan politik. Keterlibatannya di NU, MIAI, dan Masyumi mengindikasikan komitmennya terhadap pendidikan, perjuang kemerdekaan dan perkembangan sebuah Negara Indonesia yang kuat.

Pembaharuan Pendidikan
Setelah terlibat dalam perpolitikan beberapa tahun khususnya pada masa Jepang perang kemerdekaan Wahid Hasim kembali berkiprah dalam dunia pendidikan yakni terlibat dalam upaya meningkatkan pendidikan Umat Islam pada awal tahun 50-an. Penunjukan Wahid Hasim sebagai mentri agama dalam tiga kabinet, yakni kabinet Hatta, Natsir dan Sukirman, secara terus menerus, menurut Dhofier, merupakan pristiwa penting dalam sejarah Indonesia khususnya dalam dunia pendidikan. Dia berargumentasi bahwa benar kementrian sudah ada sejak Kbinet Syahir, yang dibentuk pada tanggal 3 Januari 1946, akan tetapi disesbabakan belum amannya situasi pada waktu itu sampai adanya pengakuan kedaulatan Negara Indonesia pada bulan desember 1949, kementrian agama mempunyai peran yang berarti dalam sistem pemerintahaan Indonesia. Wahid Hasimlah yang memberikan peran yang berarti.
Diantara usahanya adalah memasukan pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan nasional. Wahid Hasim menyadari bahwa sejak sisitem pendidikan nasional mengadopsi pelajaran sekuler, banyak hal yang hilang dari pendidikan terutama dalam yang berkaitan dengan nilai dan moral. Hal ini menjadi perhatiannya karena, sebagaimana disebutkan diatas pendidikan yang menjadi motor penggerak kemajuan Indonesia tidak hanya peroalan perkembangan akal atau badan dan keterampilan belaka, akan tetapi juga persoalan perkembangan spirit yang hanya dapat dicapai melalui pendidikan agama. Oleh karena itu, dia menekankan bahwa sistem pendidikan nasional harus memasukan pelajaran agama dan harus diberiakn secara seimbang dengan pelajaran umum. Perdebatan melalui apakan pelajaran agama harus diberikan disekolah pemerintah (negeri) atau tidak, akhirnya diakhiri dengan SK bersama antara kementrian agama dengan kementrian pendidikan yang menyatakan bahwa pelajran agama harus diberiakn sejak kelas 4 dan sekolah menengah selama 2 jam dalam seminggu. Berkat usaha Wahid Hasim-lah dalam kabinet, akhirnya pemerintahan mengeluarkan peraturan tertanggal 21 januari 1951, yang mewajibkan pelajaran agama harus diajarkan di sekoalah umum.
Untuk meningkatkan kualitas madrasah, Wahid Hasim mengusahakan adanya subsidi bagi madrasah swasta mulai level dasar, menengah pertama dan atas. Berkaitan dengan kurikulum, Wahid Hasim juga mengeluarkan peraturan mentri agama no. 3 tertanggal 11 Agustus 1950 yang mewajibkan adanya pelajaran umum diajarkan di madrasah.
Selama menjadi menrti agama, Wahid Hasim juga berinisiatif untuk mengembangkan sistem pendidikan yang sudah ada, misalnya didiriaknya PGA (Pendidikan Guru Agama) dan PTAIN (Perguruan Tinggi Islam Negeri). Wahid Hasim menyadari bahwa kebanyakan guru yang mengajar di madrasah adalah lulusan HIS atau hanya lulusan pesantern yang dianggap belum mampu mengemban tugas tersebut, oleh karena itu berdirnya PGA di setiap propinsi dan kemudian tiap kabupaten mempunyai arti yang sangat penting, sehingga guru-guru madrasah yang lululs PGA akan dilengkapi berbagai keterampilan proses belajar mengajar yang modern. Hal ini mempunyai damapak positif dalam membantu peningkatan kualitas lulusan madrasah.
Wahid Hasim juga mendirikan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) pada tanggal 26 Desember 1951 di Yogyakarta yang kemudian berkembang menjadi 14 IAIN, satu IAIN ditiap 14 provinsi, menampung kurang lebih tiga puluh ribu mahasiswa, perkembangan IAIN masa tersebut sangat tergantung kepada perkembangan madrasah ataupun PGA yang ingin melanjutakan pendidikannya. Meskipun pembentukan perguruan tinggi tersebut, menurut Wahid Hasim, bertujuan untuk mencapi kemajuan dengan memberikan penekanan pada pengembangan atmosfir berfikir secara rasional, sayangnya dalam perkembangannya, institusi ini banyak menghadapi problem,khususnya kualitas pendidikannya.
Beberapa orang bisa jadi menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Wahid Hasim menyebabkan adanya dualisme dalam sistem pendidikan Indonesia. Di satu sisi Departemen Pendidikan dan kebudayaan mengembangkan sistem pendidikan yang berorentasi kepada sistem barat, sedang disisi lain, yang lain, karena usaha Wahid Hasim, departemen agama menerapakan sistem pendidikan yang berorentasi pada institusi pesantren. Akan tetapi, pengambilan kesimpulan seperti itu menurut Dhofier, sama halnya menafikan fakta-fakta sejarah Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Sebagaimana dijelaskan diatas,belandalah yang mengenalkan sistem pendidikan barat yang menyebabkan adanya dikotomi pendidikan di tanah air. Apa yang di lakukan Wahid Hasim, dengan mendirikan dan mengembangkan madrasah,adalah upaya kompromi yang menjembatani dua sistem, sisitem barat dan sistem pesantren